 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Adian Husaini (Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur) |
Masalah homoseksual dan lesbian di Indonesia kini memasuki babak-babak yang semakin menentukan. Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar, Indonesia menjadi ajang pertaruhan penting perguliran kasus ini. Anehnya, hampir tidak ada organisasi dan tokoh umat yang serius menanggapi masalah ini. Padahal, ibarat penyakit, masalahnya sudah semakin kronis, karena belum mendapatkan terapi yang serius.
Ahad (26/6), Front Pembela Islam (FPI) memprotes penyelenggaraan Miss Waria Indonesia, di Gedung Sarinah. Namun, protes FPI tidak digubris. Kontes itu tetap jalan. Ini merupakan kontes yang kedua. Pemenang kontes Miss Waria tahun lalu, Meggie Megawatie (bernama asli Totok Sugiarto), berhasil masuk dalam jajaran 10 besar dalam kontes waria se-dunia di Thailand. Menurut laporan Jawa Pos (25/6/2005), kali ini, Gubernur Sutiyoso menyumbang Rp 100 juta untuk penyelenggaraan kontes waria.
Kodrat? Persoalan homoseks bukanlah persoalan kodrat manusia. Tapi, menyangkut masalah orientasi dan praktik seksual sesama jenis. Kodrat bahwa seorang berpotensi sebagai homo atau lesbi adalah anugerah dan ujian Tuhan. Tetapi, penyaluran seksual sesama jenis merupakan dosa yang dikecam keras dalam ajaran agama. Belum lama ini (8/6/2005), Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa Gereja Katolik melarang pernikahan sesama jenis dan menentang aborsi. Sikap ini disampaikan menjelang referendum di Italia soal reproduksi dan inseminasi buatan. Meskipun banyak pastor yang terjerat skandal homoseksual, Paus tetap bersikap tegas terhadap masalah homoseksual.
Pada 18 Juni lalu, lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Meskipun mayoritas Katolik, Spanyol kini merupakan negara kedua yang melegalkan pasangan homoseksual – setelah Belanda dan Belgia. Mayoritas kaum Katolik di Spanyol tampaknya tidak menggubris larangan Paus. Kaum Kristen di Barat pada umumnya, memang sudah lama menghadapi dilema dan masalah berat dalam soal homoseksual. Prinsip sekular-liberal yang diimani sebagai pedoman dan pandangan hidup mereka, telah merelatifkan dan meliberalkan nilai-nilai moral. Maka, praktik homoseksual yang dikutuk oleh Bibel dan para tokoh Gereja sejak dulu, kini semakin merajalela.
Di kalangan Yahudi, praktik homoseksual juga semakin menggejala dan menggurita. Tahun lalu, di Israel, dalam satu acara perkumpulan yang digalang oleh kelompok homoseksual/lesbian (Agudah), tokoh Partai Likud pun ikut mendukung agenda kaum homoseks itu. Bat-Sheva Shtauchler, tokoh Likud, menyatakan ''We will support everything. Who said the Likud doesn't cooperate with the community?'' Biasanya, Likud termasuk yang menentang keras praktik homoseksual, karena dalam Bible memang disebutkan, pelaku homoseksual harus dihukum mati. Dalam Kitab Imamat (Leviticus) 20:13, disebutkan bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Dalam Islam, hingga kini, praktik homoseksual tetapdipandang sebagai tindakan bejat. Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.'' (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.
Untuk pelaku praktik lesbi (wanita dengan wanita), diberikan ganjaran hukuman kurungan dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya. (QS 4:15). Para fuqaha membedakan hukuman antara pelaku homoseksual (sesama laki-laki) dengan lesbian (sesama wanita). Pelaku lesbi tidak dihukum mati. Dalam kitab Fathul Mu'in, kitab fikih yang dikaji di pesantren-pesantren Indonesia, dikatakan, bahwa pelaku lesbi (musaahaqah) diberi sanksi sesuai dengan keputusan penguasa (ta'zir). Bisa jadi, penguasa atau hakim membedakan jenis hukuman antara pelaku lesbi yang terpaksa dengan yang profesional. Apalagi, untuk para promotor lesbi. Apapun, hingga kini, praktik homoseksual dan lesbian tetap dipandang sebagai praktik kejahatan kriminal, dan tidak patut dipromosikan apalagi dilegalkan.
Ajaib Menyimak posisi ajaran Islam dan Kristen yang tegas terhadap masalah homoseksual, harusnya berbagai pihak tidak memberi kesempatan untuk mempromosikanya. Karena itu, adalah ajaib, jika saat ini, begitu banyak media massa yang membuat opini seolah-olah homoseksual adalah suatu tindakan mulia (amal salih) yang perlu diterima oleh masyarakat. Promosi dan kampanye besar-besaran legalisasi homoseksual ini berusaha menggiring opini masyarakat untuk menerima praktik homoseksual.
Pada Senin, 13 Juni 2005, pukul 08.30 WIB, dalam acara Good Morning di Trans TV melakukan kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis. Ketika itu ditampilkan sosok wanita lesbi bernama Agustin, yang mengaku sudah 13 tahun hidup bersama pasangannya yang juga seorang wanita. Agustin, yang mengaku menyukai sesama wanita sejak umur 12 tahun, ditampilkan sebagai sosok yang tertindas, diusir oleh keluarganya, pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, gara-gara dirinya seorang lesbi. Kini ia bekerja di LSM Koalisi Perempuan Indonesia. Ketika ditanya, mengapa dia berani membuka dirinya, sebagai seorang lesbi, Agustin menyatakan, bahwa dia sudah capek berbohong. Dia ingin jujur dan mengimbau masyarakat bisa memahami dan menerimanya.
Praktik hubungan seksual dan perkawinan sesama jenis, katanya, adalah sesuatu yang baik. Seorang psikolog yang juga seorang wanita (tidak dijelaskan apakah dia lesbi atau tidak) juga menjelaskan bahwa homoseksual dan lesbian bukan praktik yang abnormal, tetapi merupakan orientasi dan praktik seksual yang normal.
Acara Trans TV itu tentu saja perlu diberi perhatian serius oleh kaum Muslimin. Sebab, ini merupakan kampanye dan promosi perkawinan sesama jenis yang bersifat massal dan terbuka. Selama ini, banyak TV yang menayangkan acara baik sinetron, komedi, film yang secara terselubung berisi kampanye dukungan buat kaum homo. Hanya saja, biasanya tidak sampai kepada bentuk dukungan terhadap perkawinan sesama jenis.
Kasus leluasanya kampanye besar-besaran legalisasi homoseksual dan dukungan (pendiaman) terhadap kontes Miss Waria bisa dilihat sebagai satu gejala mulai lumpuhnya peran nahi-munkar organisasi dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Mungkin banyak tokoh sedang sibuk ngurus ''yang lain'' atau sedang mengalami kegagapan menghadapi arus globalisasi dan hegemoni media televisi yang saat ini menjadi penguasa moral dan penentu nilai-nilai moral baru di tengah masyarakat. Salah satu dampak globalisasi adalah lahirnya sikap ketidakberdayaan (powerless) yang gagap dan gamang dalam menyikapi kedigdayaan media informasi seperti TV.
Penjungkirbalikan nilai-nilai haq dan bathil merupakan masalah paling serius yang dihadapi kaum Muslim saat ini. Harusnya, organisasi Islam besar NU, Muhammadiyah, MUI, Al-Irsyad, DDII, PKS, PPP, dan sebagainya memahami, bahwa masalah pencegahan kemunkaran dalam bentuk perzinahan atau homoseksual adalah persoalan besar dan serius, yang tidak kalah seriusnya dibandingkan masalah korupsi uang. Para tokoh organisasi itu pasti paham, beratnya sanksi perzinahan dalam Islam. Urusan menghentikan kemunkaran bukanlah hanya tugas FPI atau KISDI semata. Kita berharap, kemenangan partai Islam di wilayah terentu berbanding lurus dengan pengurangan tindakan kemunkaran di wilayah itu. Jangan sampai politiknya menang, tapi kemunkaran malah berkembang, yang mendekatkan masyarakat pada turunnya azab Allah SWT.
Mengikuti jejak kalangan Kristen, di kalangan Islam, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi Islam, juga sudah muncul suara yang mendukung perkawinan sejenis. Tahun 2004, Jurnal Justisia terbitan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, menulis cover story dengan judul ''Indahnya Kawin Sesama Jenis''. Dikatakan di Jurnal ini, bahwa hanya orang primitif saja yang yang melihat perkwinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.
Kini, dalam soal homoseksual, manusia seperti memutar jarum sejarah: menganggap enteng, memberikan legitimasi, dan ujungnya adalah azab Allah. Dan Rasulullah SAW mengingatkan: ''Tidaklah (sebagian) dari suatu kaum yang berbuat maksiat, dan di kalangan mereka ada orang yang mampu mencegahnya atas mereka, lalu dia tidak berbuat, melainkan hampir-hampir Allah meratakan dengan azab dari sisi-Nya.'' (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

 | Masalah homoseksual dan lesbian di Indonesia kini memasuki babak-babak yang semakin menentukan. Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar, Indonesia menjadi ajang pertaruhan penting perguliran kasus ini. Anehnya, hampir tidak ada organisasi dan tokoh umat yang serius menanggapi masalah ini. Padahal, ibarat penyakit, masalahnya sudah semakin kronis, karena belum mendapatkan terapi yang serius.
Ahad (26/6), Front Pembela Islam (FPI) memprotes penyelenggaraan Miss Waria Indonesia, di Gedung Sarinah. Namun, protes FPI tidak digubris. Kontes itu tetap jalan. Ini merupakan kontes yang kedua. Pemenang kontes Miss Waria tahun lalu, Meggie Megawatie (bernama asli Totok Sugiarto), berhasil masuk dalam jajaran 10 besar dalam kontes waria se-dunia di Thailand. Menurut laporan Jawa Pos (25/6/2005), kali ini, Gubernur Sutiyoso menyumbang Rp 100 juta untuk penyelenggaraan kontes waria.
Kodrat? Persoalan homoseks bukanlah persoalan kodrat manusia. Tapi, menyangkut masalah orientasi dan praktik seksual sesama jenis. Kodrat bahwa seorang berpotensi sebagai homo atau lesbi adalah anugerah dan ujian Tuhan. Tetapi, penyaluran seksual sesama jenis merupakan dosa yang dikecam keras dalam ajaran agama. Belum lama ini (8/6/2005), Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa Gereja Katolik melarang pernikahan sesama jenis dan menentang aborsi. Sikap ini disampaikan menjelang referendum di Italia soal reproduksi dan inseminasi buatan. Meskipun banyak pastor yang terjerat skandal homoseksual, Paus tetap bersikap tegas terhadap masalah homoseksual.
Pada 18 Juni lalu, lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Meskipun mayoritas Katolik, Spanyol kini merupakan negara kedua yang melegalkan pasangan homoseksual – setelah Belanda dan Belgia. Mayoritas kaum Katolik di Spanyol tampaknya tidak menggubris larangan Paus. Kaum Kristen di Barat pada umumnya, memang sudah lama menghadapi dilema dan masalah berat dalam soal homoseksual. Prinsip sekular-liberal yang diimani sebagai pedoman dan pandangan hidup mereka, telah merelatifkan dan meliberalkan nilai-nilai moral. Maka, praktik homoseksual yang dikutuk oleh Bibel dan para tokoh Gereja sejak dulu, kini semakin merajalela.
Di kalangan Yahudi, praktik homoseksual juga semakin menggejala dan menggurita. Tahun lalu, di Israel, dalam satu acara perkumpulan yang digalang oleh kelompok homoseksual/lesbian (Agudah), tokoh Partai Likud pun ikut mendukung agenda kaum homoseks itu. Bat-Sheva Shtauchler, tokoh Likud, menyatakan ''We will support everything. Who said the Likud doesn't cooperate with the community?'' Biasanya, Likud termasuk yang menentang keras praktik homoseksual, karena dalam Bible memang disebutkan, pelaku homoseksual harus dihukum mati. Dalam Kitab Imamat (Leviticus) 20:13, disebutkan bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Dalam Islam, hingga kini, praktik homoseksual tetapdipandang sebagai tindakan bejat. Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.'' (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.
Untuk pelaku praktik lesbi (wanita dengan wanita), diberikan ganjaran hukuman kurungan dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya. (QS 4:15). Para fuqaha membedakan hukuman antara pelaku homoseksual (sesama laki-laki) dengan lesbian (sesama wanita). Pelaku lesbi tidak dihukum mati. Dalam kitab Fathul Mu'in, kitab fikih yang dikaji di pesantren-pesantren Indonesia, dikatakan, bahwa pelaku lesbi (musaahaqah) diberi sanksi sesuai dengan keputusan penguasa (ta'zir). Bisa jadi, penguasa atau hakim membedakan jenis hukuman antara pelaku lesbi yang terpaksa dengan yang profesional. Apalagi, untuk para promotor lesbi. Apapun, hingga kini, praktik homoseksual dan lesbian tetap dipandang sebagai praktik kejahatan kriminal, dan tidak patut dipromosikan apalagi dilegalkan.
Ajaib Menyimak posisi ajaran Islam dan Kristen yang tegas terhadap masalah homoseksual, harusnya berbagai pihak tidak memberi kesempatan untuk mempromosikanya. Karena itu, adalah ajaib, jika saat ini, begitu banyak media massa yang membuat opini seolah-olah homoseksual adalah suatu tindakan mulia (amal salih) yang perlu diterima oleh masyarakat. Promosi dan kampanye besar-besaran legalisasi homoseksual ini berusaha menggiring opini masyarakat untuk menerima praktik homoseksual.
Pada Senin, 13 Juni 2005, pukul 08.30 WIB, dalam acara Good Morning di Trans TV melakukan kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis. Ketika itu ditampilkan sosok wanita lesbi bernama Agustin, yang mengaku sudah 13 tahun hidup bersama pasangannya yang juga seorang wanita. Agustin, yang mengaku menyukai sesama wanita sejak umur 12 tahun, ditampilkan sebagai sosok yang tertindas, diusir oleh keluarganya, pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, gara-gara dirinya seorang lesbi. Kini ia bekerja di LSM Koalisi Perempuan Indonesia. Ketika ditanya, mengapa dia berani membuka dirinya, sebagai seorang lesbi, Agustin menyatakan, bahwa dia sudah capek berbohong. Dia ingin jujur dan mengimbau masyarakat bisa memahami dan menerimanya.
Praktik hubungan seksual dan perkawinan sesama jenis, katanya, adalah sesuatu yang baik. Seorang psikolog yang juga seorang wanita (tidak dijelaskan apakah dia lesbi atau tidak) juga menjelaskan bahwa homoseksual dan lesbian bukan praktik yang abnormal, tetapi merupakan orientasi dan praktik seksual yang normal.
Acara Trans TV itu tentu saja perlu diberi perhatian serius oleh kaum Muslimin. Sebab, ini merupakan kampanye dan promosi perkawinan sesama jenis yang bersifat massal dan terbuka. Selama ini, banyak TV yang menayangkan acara baik sinetron, komedi, film yang secara terselubung berisi kampanye dukungan buat kaum homo. Hanya saja, biasanya tidak sampai kepada bentuk dukungan terhadap perkawinan sesama jenis.
Kasus leluasanya kampanye besar-besaran legalisasi homoseksual dan dukungan (pendiaman) terhadap kontes Miss Waria bisa dilihat sebagai satu gejala mulai lumpuhnya peran nahi-munkar organisasi dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Mungkin banyak tokoh sedang sibuk ngurus ''yang lain'' atau sedang mengalami kegagapan menghadapi arus globalisasi dan hegemoni media televisi yang saat ini menjadi penguasa moral dan penentu nilai-nilai moral baru di tengah masyarakat. Salah satu dampak globalisasi adalah lahirnya sikap ketidakberdayaan (powerless) yang gagap dan gamang dalam menyikapi kedigdayaan media informasi seperti TV.
Penjungkirbalikan nilai-nilai haq dan bathil merupakan masalah paling serius yang dihadapi kaum Muslim saat ini. Harusnya, organisasi Islam besar NU, Muhammadiyah, MUI, Al-Irsyad, DDII, PKS, PPP, dan sebagainya memahami, bahwa masalah pencegahan kemunkaran dalam bentuk perzinahan atau homoseksual adalah persoalan besar dan serius, yang tidak kalah seriusnya dibandingkan masalah korupsi uang. Para tokoh organisasi itu pasti paham, beratnya sanksi perzinahan dalam Islam. Urusan menghentikan kemunkaran bukanlah hanya tugas FPI atau KISDI semata. Kita berharap, kemenangan partai Islam di wilayah terentu berbanding lurus dengan pengurangan tindakan kemunkaran di wilayah itu. Jangan sampai politiknya menang, tapi kemunkaran malah berkembang, yang mendekatkan masyarakat pada turunnya azab Allah SWT.
Mengikuti jejak kalangan Kristen, di kalangan Islam, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi Islam, juga sudah muncul suara yang mendukung perkawinan sejenis. Tahun 2004, Jurnal Justisia terbitan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, menulis cover story dengan judul ''Indahnya Kawin Sesama Jenis''. Dikatakan di Jurnal ini, bahwa hanya orang primitif saja yang yang melihat perkwinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.
Kini, dalam soal homoseksual, manusia seperti memutar jarum sejarah: menganggap enteng, memberikan legitimasi, dan ujungnya adalah azab Allah. Dan Rasulullah SAW mengingatkan: ''Tidaklah (sebagian) dari suatu kaum yang berbuat maksiat, dan di kalangan mereka ada orang yang mampu mencegahnya atas mereka, lalu dia tidak berbuat, melainkan hampir-hampir Allah meratakan dengan azab dari sisi-Nya.'' (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).  Nah, kalau soal ini saya punya cerita tersendiri. pernah tau Dede Oetomo gak? Ketua GaYa Nusantara Surabaya...dia juga tinggal serumah dengan sesama lelaki namanya Edi Mustafa selama hampir 20 tahun. Dia juga mungkin masalahnya sama, dengan masyarakat. Namun masyarakat sekitar, nampaknya sih mulai menerima dia apa adanya. Saya pernah membahas ini dalam journal " IF your friend is a gay or lesbian" cari aja...disitu, pandangan saya mungkin dalam hal ini lebih longgar dibanding lainnya. Pernah dengar yayasan Al-Fatihah gak? (entah masih ada atau tidak), yang berbasis di London dan menampung aspirasi Muslimin yang Gay dan Lesbian. Coba Sis Ira cek dech...(bukannya maksa)
Bahut-Bahut Syukriya
Allah Hafiz |
 | iya tuh hrs ngimana yah menyikapinya...kadang2 geli ngiliatinnya tp kasihan jg sm mereka. saat ini aja si Afi "Naif" mo nikah sm salah satu pengusaha namanya Paul. mereka mo nikah di Belanda. saya binggung jg knp hrs nikah sih...wong mereka jg gak bakalan py anak yg butuh akte or utk menghindari zina.
saya nanya jg sama ustad2 kl sebenarnya mereka labil. ada yg emang homo beneran ada yg ikut trend (kok mau yah). bisa di obatin tp asal mereka mau dan ingin. ngimanapun cerita mereka ttp aja itu salah n dilarang punya orientasi seks spt itu.
kasihan jg sih sm mrk... |
 | akmal wrote on Jul 1, '05 assalaamu'alaikum wr. wb.
susah juga ya ngurusin masalah homoseksual ini... terus terang saya belum menemukan solusi utk mereka... hanya saja saya kurang suka kalau mereka bersikap seperti korban yg tdk berdaya dgn kodratnya... orang skizofrenia pun bisa jadi ahli matematika (silakan tonton A Beautiful Mind)... orang tuna netra bisa jadi hafizh qur'an... bahkan kemarin saya baca koran, ada pertandingan sepak bola utk tuna netra... sementara mereka, belum apa-apa sudah bilang "saya tdk bisa memungkiri takdir saya"... bukankah setiap manusia punya jatah cobaannya sendiri2? mengeluh tdk akan menyelesaikan masalah, apalagi menyerah...
wassalaamu'alaikum wr. wb. |
 | yup! benar... bahkan thomas alfa edison pun yang tuna rungu itu mampu mencipta bohlam lampu.... |
Comment deleted at the request of the author.
 | sebenarnya kalo mereka sadar, juga pasti akan mencoba menjalani kehidupannya secara normal juga, maksudnya ga berusaha meggembor2kan orientasi seksual mereka dan berzina sesama jenis. ada kasus di mana seorang homoseksual, mencoba menjalani kehidupan sosialnya seperti seorang heteroseksual, seperti menikah, punya anak. memang ga sembuh-sembuh benar, maksudnya ia tetap memliki kecenderungan itu, tapi ia berusaha untuk (bukan mengingkari takdir) bertahan dari ujian tersebut. ia sadar betul bahwa paraktik homoseksual itu dosa, tapi jika memiliki kecenderungan itu dan berusaha bertahan dari tindakan dosanya tentunya bukanlah suatu aib, bukan? karena setiap orang punya potensi seperti itu, makanya kita juga tidak dianjurkan untuk membuka keseluruhan aurat kita di depan orang lain, walaupun sesama jenis, bukan.... mungkin kita juga harus hati2, karena anak2 muda sekarang makin banyak akses ke media yg mendukung praktik homoseksual ini... salah satunya di Jepang... ada majalah komik khusus yang justru ditujukan bagi REMAJA wanita (???) yang isinya kegiatan homoseksual yg dibungkus secara romantis dan seperti layaknya kisah2 cinta heteroseksual lainnya...bagi remaja prianya mungkin ada sendiri dan beberapa ada yg masuk ke indonesia... so becareful parents... just an opinion.... |
 | secara agama itu memang dosa tetapi apakah kategori untuk masuk tempat bernama surga cuma menyangkut urusan sex seseorang? bagaimana dengan mengasihi dan menghormati orang lain dari pada sibuk menjudge orang lain? emang sehh.. melihat salah orang lebih mudah dari pada melihat salah sendiri. tapi...kalau kita bisa menjelaskan mengapa kita menyukai lawan jenis..pasti kamu bisa mengerti kanapa orang menyukai sesama jenis |
 | kenapa ndak di sulap abrakadabra saja oleh bapak ustad tercinta kita, sehingga yang punya orientasi seksual berbeda itu bisa sembuh semua, normal seperti sedia kala ?
para ustad terkadang terlalu pilih pilih untuk menyembuhkan orang. seharusnya kalau homoseksualitas bisa disembuhkan, para ustad dong yang mengambil bola ... gimana sih ... |
 | orang skizofrenia pun bisa jadi ahli matematika (silakan tonton A Beautiful Mind)  kayaknya john nash jadi ahli matematika duluan deh, baru schizoprenianya menampakkan gejala negatif. jangan dibalik dan diplintir cak ...
lagian ngobatin kelainan mental tuh mahal, liat aja dibawah ini. biaya untuk meremediasi schizoprenia.
Menelusuri Halusinasi Penderita Schizophrenia Aug 18, '06 1:18 AM for everyone
SEDIKIT orang tahu bahwa John Forbes Nash Jr., peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1994, adalah seorang penderita schizophrenia, sampai kemudian sebuah film yang digarap apik oleh sutradara Hollywood Ron Howard membeberkan kisah hidupnya dalam film A Beatiful Mind. Di film yang dibintangi Russell Crowe tersebut, sosok John Nash mengundang banyak simpati. Tapi di Indonesia, penderita schizophrenia masih kurang mendapatkan tempat. Padahal penyakit ini bisa disembuhkan.
Schizophrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi. Selain karena faktor genetik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggi di sekelilingnya. Menurut psikolog Prof. Dr. Dadang Hawari, jumlah penderita schizophrenia di Indonesia adalah tiga sampai lima per 1000 penduduk. Mayoritas penderita berada di kota besar. Ini terkait dengan tingginya stress yang muncul di daerah perkotaan.
Schizophrenia memiliki basis biologis, seperti halnya penyakit kanker dan diabetes. Penyakit ini diyakini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada dopamine, yakni salah satu sel kimia dalam otak (neurotransmitter). Otak sendiri terbentuk dari sel saraf yang disebut neuron dan kimia yang disebut neurotransmitter. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan serotonin, jenis neurotransmitter yang lain, juga berperan dalam menimbulkan gejala schizophrenia.
Dadang mengakui bahwa schizophrenia dapat dipicu dari faktor genetik. Namun jika lingkungan sosial mendukung seseorang menjadi pribadi yang terbuka maka sebenarnya faktor genetika ini bisa diabaikan. ”Gejala schizophrenia bahkan bisa tidak muncul sama sekali,” ujar Dadang dalam wawancara dengan SH baru-baru ini. Namun jika kondisi lingkungan malahan mendukung seseorang bersikap a-sosial maka penyakit schizophrenia menemukan lahan suburnya. Pendapat Dadang ini sedikit berbeda dengan data yang dikeluarkan pusat informasi schizophrenia yang beralamat di www.schizophrenia.com. Data tersebut menyebutkan bahwa schizophrenia sama sekali penyakit yang memiliki landasan biologis dan tidak terkait dengan kesalahan pola asuh atau kelemahan kepribadian seseorang
Namun lepas dari perbedaan tersebut, penyakit schizophrenia memiliki gejala yang serupa. Menurut Dadang, ada dua gejala yang menyertai schizophrenia yakni gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, menarik diri dari pergaulan, dan sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.
Dalam dua gejala ini, penderita mengalami gangguan berpikir dan sering memiliki khayalan serta halusinasi. Manifestasi dari khayalan ini adalah mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan. Halusinasi tersebut benar-benar dapat didengar, dilihat, bahkan dirasakan oleh si penderita. Seringkali halusinasi mengarahkan tindakan penderita, memperingatkan tentang suatu bahaya atau memberitahu dia apa yang harus dilakukan. Bahkan tak jarang si penderita asyik bercakap-cakap dengan para tokoh yang muncul dalam halusinasi ini.
Menurut Dadang, halusinasi ini merupakan proyeksi dari pikirannya sendiri. Film A Beatiful Mind menggambarkan dengan cukup apik bagaimana John Nash berkomunikasi dengan tokoh-tokoh khayalannya seolah mereka benar-benar nyata. Ia bahkan meyakini dirinya terlibat dalam sebuah konspirasi militer tingkat tinggi. Para penderita schizophrenia sangat yakin bahwa apa yang ia dengar dan lihat juga didengar dan dilihat oleh lingkungan sekelilingnya. Keyakinan ini, menurut Dadang, kadang menjadi kendala bagi penyembuhannya. Karena jika si penderita masih meyakini halusinasinya maka ia tetap menganggap dirinya waras.
Schizophrenia dapat menimpa siapa pun, terutama orang yang memiliki keturunan secara genetis. Episode kegilaan pertama umumnya terjadi pada akhir masa remaja dan awal masa dewasa. Pada anak yang kedua orang tuanya tidak menderita schizophrenia, kemungkinan terkena penyakit ini adalah satu persen. Sementara pada anak yang salah satu orang tuanya menderita schizophrenia, kemungkinan terkena adalah 13 persen. Dan jika kedua orang tua menderita schizophrenia maka risiko terkena adalah 35 persen.
Data yang ditunjukkan pusat data schizophrenia AS, tiga perempat penderita schizophrenia berusia 16-25 tahun. Data ini memiliki kesamaan dengan pernyataan Dadang yang mengatakan bahwa schizophrenia di Indonesia umumnya menyerang remaja. Pada kelompok usia 16-25 tahun, schizophrenia mempengaruhi lebih banyak laki-laki dibanding perempuan. Pada kelompok usia 25-30 tahun, penyakit ini lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki.
Terapi
Sejak tahun 1950-an sudah ditemukan obat bagi penderita schizophrenia. Obat yang disebut neuroleptics ini mampu mengurangi gejala kegilaan yang muncul pada penderita schizophrenia. Menurut Dadang, obat schizophrenia versi lama hanya menyembuhkan gejala positif schizophrenia, seperti gampang mengamuk dan gemar berteriak-teriak. Sayangnya, obat tersebut tidak menyembuhkan gejala negatif schizophrenia. Penderita schizophrenia yang mengonsumsi obat versi lama masih sering tampak bengong dan gemar melamun.
Sementara obat schizophrenia versi baru, menurut pengakuan Dadang, berhasil menyembuhkan gejala negatif sekaligus positif. Persoalannya, obat yang harus dikonsumsi satu kali sehari tersebut dijual dengan harga 50 ribu rupiah per bijinya. Padahal, penderita schizophrenia harus mengonsumsi obat tersebut antara tiga sampai enam bulan. ”Tergantung pada penyakitnya,” ujar Dadang yang juga telah menulis buku tentang schizophrenia berjudul ”Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Schizophrenia”.
Selain terapi obat, penderita schizophrenia juga mendapatkan terapi konsultasi. Melalui konsultasi, maka pasien bisa dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Keluarga dan kawan merupakan pihak yang juga sangat berperan dalam membantu pasien bersosialisasi. Dalam kasus schizophrenia akut, pasien harus mendapat terapi khusus dari rumah sakit. Kalau perlu, ia harus tinggal di rumah sakit tersebut untuk beberapa lama sehingga dokter dapat melakukan kontrol dengan teratur dan memastikan keamanan penderita.
Tapi sebenarnya, yang paling penting, adalah dukungan dari keluarga penderita. Karena jika dukungan ini tidak diperoleh, bukan tidak mungkin para penderita mengalami halusinasi kembali. Menurut Dadang, sejumlah penderita schizophrenia juga sering kambuh meski telah menyelesaikan terapi selama enam bulan. Karena itu, agar halusinasi ini tidak muncul lagi, maka penderita harus terus menerus diajak berkomunikasi dengan realitas.
Masih ingat wajah lega Jennifer Connelly, yang memerankan Alicia Nash dalam A Beatiful Mind, saat menyaksikan sang suami bisa berdiskusi asyik dengan para mahasiswa di kampusnya? John Nash membuktikan kepada dunia bahwa penderita schizophrenia bisa disembuhkan. Meski halusinasi itu masih sering melintas dalam batok kepalanya, tapi toh, berkat bantuan istri dan kawan-kawan dekatnya, Nash berhasil mengabaikan halusinasi tersebut. (Suara Harapan)
|
 | agak sulit juga ya, saya Gay, dan saya muslim. InsyaAllah berusaha lima waktu ke masjid meskipun ashar suka jmaah di rumah.bingung juga dengan status saya. kadang suka mikir kenapa Allah ciptakan cinta seperti ini, tapi melarangnya juga. saya gay sejak kecil sekitar umur 7 tahun-an. Waktu itu belum tahu namanya gay, tapi ingat betul saya lebih suka dengan gambar laki-laki daripada yang perempuan saat lihat foto. tapi gimanapun juga saya berusaha untuk tetap tdak menjalani hidup sbg gay selama saya belum paham betul dengan pasti hukumnya. InsyaAllah saya mau masuk pesantren saja dan mempelajari Islam lebih jauh. utuk masalah seks, saya tahan saja--mudah-mudahan ada jalan keluar kalau kita memilih bertakwa pada Allah. Teman-teman tolong doakan saya supaya tidak salah memilih jalan |
 | semoga Allah menolong bapak kembali pada fitrah...amin.. |
 | thx doanya, mungkin collective pray can b change destiny ya=) Tiap makhluk kan punya cobaanya sendiri-sendiri, mungkin ini cobaan utk kaum kami. Oh..iya, jgn panggil Bapak deh, masih 24 th, barusan jg lulus S1.Bagaimanapun juga saya tidak ingin melepas kenikmatan terbesar Iman & Islam. Saya memutuskan untuk memegang teguh agar bisa berhjrah & berjihad. Hijrah dari kehidupan lama saya kak & berjihad melawan nafsu saya sendiri tentunya. Yang agak berat adalah menyembunyikan ini semua dari semua orang, karena lingkungan sosial seringkali belum bisa menerima orang2 yg berada di dua kutub ektrem kurva normal. pokonya selama ini serasa X-men gitu deh. Mutant yang harus menyembunyikan identitasnya dari semua orang.Termasuk dari keluarga dan orangtua. Sering banget kena depress, tiba2 blue feel dan desperate dgkenyataan yang ada-kalo udah gitu yg kebayang moncong pistol-sekali 'BAM'di tempat yg tepat, ktemu deh ma Tuhan &menanykan maksud penciptaan kaum seperti kami. Alhamdulillah inget firman Allah "Robbana maa kholaqta haadza baatila subhaanaka faqina adzaabannar" -Tuhanku sungguh tidak Kau ciptakan semua ini dengan sia-sia,Maha suci Engkau maka jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Dari sini jadi suka mikir, pasti ada maksud dari penciptaanku, ada sesuatu yang harus dikerjakan & diselesaikan. Dulu hari-hari penuh kemarahan dengan Tuhan. Pertanyaan "kenapa Kau ciptakan kaum seperti ini dan Kau janjikan pula azab atas mereka", adalah pertanyaan yang gak pernah berhenti terucap. Kalo tanya dg teman2 ahli agama, jelas referensi jawabanya adalah kaum Luth (Soddom), tanpa sedkitpun memahami konteksnya berbeda. Saya gak pernah berhubungan seksual dg tmn2 sesama jenis kak, cuma kalo yg namanya CINTA, yah...siapa sih yg gak ngerasain ? menderita bgt deh kalo dah gitu, ini sebabnya saya seringkali memilih menghindari terlalu banyak bergaul dg cowok,bahkan brusaha menundukkan pandangan kalo dah ktm cowo yg bikin genderang jantung ditabuh. Kalo dah begini biasanya langsung mengibarkan bendera perang--jadinya aneh banget, aku jadi sering agak kasar dg beberapa tmn cowok--tapi jdinya tambah aneh malah, karena banyak yg bilang aku manis (sory ini hasil survey lo)kalo aku mencoba bersikap agak kasar, keliatan malah jadi tambah manis....dan ini justru menarik buat beberapa cowo. fiuuuhhh...kalo teman2 dengar perjalanan cintaku dulu...bakal jadi cerita yg mengangkat nama perfilm-an Indonesia deh. Mencoba menerima semua kenyataan, dan tetap bertahan di garis yg sudah ditentukan Allah gak mudah memang, karenanya saya mohon teman2 bersedia mendoakan, kalaupun tidak 'sembuh', paling tidak saya bertahan di jalan yg diridhoi Allah sampai waktunya tiba nanti semuanya halal di akhirat kelak. Sekarang saya sedang berusaha menghentikan hubungan dg seseorang yg masih sangat saya cintai, saya memutuskan utk tdk menghubunginya via phone, sms, atopun email-saya meminta teman-teman saya lainya utk tdk memberitahukan alamat saya yg baru kepada 'dia yg namanya tidak boleh disebut'. Semoga semua jadi bagian dari hijrah kami berdua dari yg batil menuju yg Haq.Semoga kami diberi kekuatan utk selalau memilih kebesaran Ridonya Allah dibanding sekedar menuruti secuil nafsu kami yg hanya sesaat di dunia ini. ah..lega jug akhirnya punya tempat cerita, thx ya semua |
Comment deleted at the request of the author.
 | Soal gay, lesbi or waria mah udah keliatan gejalanya dr thn 90-an. ada usaha terstruktur dr agama lain utk merusak Islam, diantaranya: - free sex - hidup sbg konsumen tanpa berpikir sbg produsen. - gaya hidup barat yg sok gaul. - gengsi gede-gedean. - di lingkungan selebritis, susah dpt job jika tdk jd gay/bencong/ lesbi.
mulai sekarang, hindari gaya bercanda dng gaya bencong krn itu akan membuat waria/bencong2 akan besar kepala dan merasa diakui keberadaannya... |
 | bagaimanapun juga, memang lingkungan punya andil besar dalam membentuk karakter seseorang. Jadi, ada baiknya untuk hidup dalam lingkungan yang baik dan terjaga dari hal-hal yang dibenci Allah |
 | Smg Allah SWT memberikan jalan terbaik untuk adek... hidup cuma persinggahan, akhirat adalah tujuan... hindari bergaul dng org2 yg punya masalah serupa anda, hindari kehidupan malam, jalani hidup sesuai AL_QUR'an, Insya Allah bisa menahan godaan &selamat sampai tujuan... |
 | Betul mbak prajurit kecil, smg nanti2 bisa jadi prajurit besar... kapan lagi kita merapatkan barisan utk hadapi moral yg salah yg dijadikan benar oleh oknum2 manusia yg meng-agungkan kehidupan dunia...
|
 | boleh minta no hamamoto, makasih..ada berita penting.. |
 | gak punya tuh pak, secara terakhir reply dia tahun lalu... |
| |