ReviewReviewReviewReviewReviewFUTUR!Jun 25, '05 7:51 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:dari sebuah milis
Futur

“Aku ingin keluar dari jamaah ini!”, sepotong
kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk
yang pertama kali, namun sudah tak terhingga
kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula
yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah.
Pernyataan ini senantiasa membekas di setiap zaman,
di setiap episode dakwah, dari zaman kenabian
sampai hari kiamat.

“Silahkan akhi….silahkan ukhti….”, jawab
seorang ikhwah
menimpali. Beberapa dari kita mempersilahkan
kepergian saudara dari
barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang
lahir dari pemahaman
bahwa hal ini merupakan sunnah dakwah, bahwa
akan selalu lahir
ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa
Islam akan tetap
terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini
merengek-rengek demi
menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi
alamiah berlaku untuk
membersihkan orang-orang yang barangkali memang
kurang pantas
mengemban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak
yang menerapkan
dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah
yang benar-benar
mundur dari barisan ini

Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang
stabil atau sedikit
lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita
pun seperti kita.
Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada
saudara-saudara
kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita.
Maka, ketika kondisi
saudara kita tidak stabil, sedang mengalami
fluktuasi iman, futur,
kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita
melihatnya dengan
perspektif berbeda dengan apa yang
dirasakannya atau yang
dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa
survival bertahan
di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa
terlalu perlu untuk
memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan.
Sementara betapa
ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.

Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup
sendiri tanpa seorang
ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita
mengira bahwa kita
harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika
ada seorang yang
futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli
padanya. Dan ketika dia
benar-benar mengucapkan, “selamat tinggal”, kita
menyalahkannya atas
kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas
kesalahan dari futurnya
saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah
sunatuddakwah.

Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari
barisan ini setelah
tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang
mengejutkan memang, ulama
bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun
ada yang terjatuh,
saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan
seorang yang telah
memiliki kepahaman dan mobilitas dakwah yang
tinggi, apakah bisa
diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam
barisan ini, tanpa
kepahaman dan aksi dakwah yang mapan?Lepasnya seorang
kader produktif
apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru
orang yang baru-baru
mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas
dakwah yang masih
nol?

Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5
tahun telah bisa
menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra?Nilai
keimanan memang tidak
bisa diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita
bisa melihat secara
umum bagaimana kondisi keimanannya dengan parameter
usia interaksinya
dengan dakwah. Apakah kita akan menyikapi seorang
yang baru setahun
liqo dengan sikapnya Musa As. kepada Harun As.
Saat beliau menarik
jenggot saudaranya?Atau kita mencoba mengikuti
marahnya Abu Bakar ra.
Kepada Umar ra yang memilih jalur ‘lembut’ dalam
menyikapi Musailamah
dan orang-orang yang menolak zakat?Sekeras itukah
kita berperilaku
terhadap seorang ikhwah.

Dimana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam
dakwah ini, dimana
pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru
masuk dalam aksi
tarbiyah? Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia
tidak menyapamu,
smslah ia saat sang adik tidak pernah muncul-muncul
dalam pertemuan
keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang
manja, tularkan
petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya
mereka survival
dalam menjaga stablitas keimanananya?Tidak, tidak
ya akhi, cukuplah
derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya
seorang ikhwah
‘berhenti’ sampai disini, dekaplah dan tahanlah
mereka yang hendak
pergi.

Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya
bunga-bunga mujahid harus
terjaga tetap hadir di sebuah kebun…

Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal …

(Suara Persaudaraan)

dari sebuah milis

defathya wrote on Jun 29, '06
...ni sy nge-linknya gmn Pak Guru/ Bu Guru ?
unisa81 wrote on Jun 29, '06
FUTURE, adalah lawan dari futur..
ikhwah yang *future*? apa itu?
future dalam bahasa inggris artinya masa depan...

Ikhwah yang future, berarti ikhwah yang bersemangat memandang jauh ke depan dan bercita-cita tinggi
baik untuk dirinya, keluarga, lingkungan sekitarnya, apalagi agamanya...

Ikhwah yang future, berarti ikhwah yang gagah melangkah ke depan
dan kokoh menyongsong tantangan

ikhwah yang future..
tak kan pernah ucapkan selamat tinggal

*aduh jadi kepanjangan, malah ngeblog di sini, punteun mba :D
ariefrach wrote on Jul 20, '06
apakah ini termasuk persoalan ukhuwwah?
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help