ReviewReviewReviewReviewReviewmengenang sahabatJun 24, '05 8:29 AM
for everyone
Category:Other
10 hari setelah kepergian seorang saudara
12 hari setelah pertemuan terakhir dengannya
entah kenapa juga, mata ini masih selalu panas tiap mengingatnya

aku bilang sama Pak Herry, kalau aku sangat berduka atas kepergiannya
Pak Herry bilang dia pun berduka sangat dalam atas kepergian ustad Rahmat
Tapi Pak, beda kaliii... Ustad Rahmat pergi dihantar ribuan orang yang demikian cinta dengannya. Tapi sahabatku itu, dia pergi dengan kesendirian. Bahkan keluarga almarhum istrinya pun tak sempat melihat jenazahnya.

Pak Herry bilang, Ira yang baik... bukankah Abu Dzar pun meninggal dengan kesendirian....? Ira terdiam. Iya... bener...! Sahabat Rasul tercinta itu pun pergi ditemani sunyi.

Duh... cengeng gak Ira ya, jika sampai hari ini masih mengenang dia. Dan tiap kali mengenangnya Ira pasti berderaian air mata.

Semua tergambar sempurna! Sangat sempurna!
Saat pertama kali berinteraksi dengan dia. Ketika belum ada saudara-saudara lain dalam shaff yang sama. Segala tudingan, hinaan, dan cibiran harus diterima. Meski kadang muncul ketidaksabaran, hingga membalas segala kepahitan yang diterima itu dengan ketidakbaikan juga.
Semua tergambar jelas dengan sempurna!
Saat satu per satu barisan ini bertambah banyak, dan interaksi dengannya pun berkurang. Karena bagaimana pun juga, jauh lebih baik berkoordinasi dengan akhwat dalam aktivitas. Lagipula da'wah menuntutnya untuk mengepakkan sayap lebih lebar. Tak pernah ada rasa sedih ditinggal saudara yang lebih dulu lepas landas untuk da'wah. Hati ini tetap yakin, karena da'wah lah yang menyatukan hati-hati kami. Doa robithoh selalu mampu menghapus rindu pada saudara-saudara yang sedang tak terdengar kabarnya.
Semua itu masih dengan jelas tergambar...
ketika dia memutuskan pergi dari jakarta, dia masih mau menerima telepon aku. Masih mau menjawab SMS aku. Padahal saat ikhwah lain mencoba menghubunginya, selalu saja gagal. Terakhir, sms yang dia kirim adalah: "ana mencoba menerima semua yang Allah kasih sebagai bagian dari rencana Allah untuk ana. Dan izinkan ana mengenang antum semua sebagai saudara-saudara terbaik ana" (Hiks, siapa yang gak langsung berderai-derai abis baca sms itu...?)
Semua masih tergambar dengan jelas dan sangat jelas....
bagaimana mengajak anak-anak usia 5-8 tahun untuk belajar mengaji di Musholla kecil sederhana yang sekarang sudah berubah megah seperti disain yang dia buat dulu. Dan jadwal mengaji di Musholla pun sudah berubah menjadi TPA berisikan 4 kelas lengkap dengan tenaga-tenaga pengajar. Bukan lagi pengajar yang sepekan tiga hari, dan itu pun kalau tidak ada acara di kampus yang memaksa pulang malam hingga menelantarkan adik-adik yang haus ilmu agama.
Semua masih terlihat jelas dengan sempurna
Dengan sabarnya dia datang ke ruah tiap Senin malam, untuk membina adik kecilku, Aji. Yang tiap kali "Bang Sodik"nya datang, Aji dengan cekatan berlari ke rumah temannya di belakang. Hanya untuk menghindari jadwal mengaji.
Meskipun demikian, Aji tetap memperlakukan dia sebagai abangnya. Karenanya ketika didengar kabar "Bang Sodik"nya sakit parah, Aji dengan segera ikut serta denganku menjenguk.
Awalnya dia tak mengenali siapa laki-laki muda berambut gondrong dengan gamis hitam. "Ini Aji Bang Sodik..!" demikian ujar adikku, sambil memeluk sahabatku yang hanya bisa berbaring itu. "OH, Aji sudah besar sekarang...!" kulihat matanya yang takjub.
Duh, tahukah kau saudaraku... Aji sekarang bukan saja sudah besar.... dia pun sudah punya banyak hafalan Al Quran. Tidak sekedar juz 30, bahkan lima juz sebelumnya telah dia hafal.
Maka Aji pun kulihat sangat terpukul saat kuberitakan kepergian sahabatku yang dianggapnya sebagai "abang". Diam, terdiam, menunduk dan menangis.
Aji sudah lama tidak menangis. Tapi kali ini, aku bisa rasakan betapa dia kehilangan sosok abang. Maklum, setelah Bung Pam pergi ke Mesir... di rumah, anak Mama dan Papa tinggal Aku dan Aji. Sahabatku itu pun bersahabat dengan Bung Pam, dan dia pun menjaga hubungan dengan keluargaku. Wajar jika Aji menjadikannya sebagai pengganti Bung-bung nya yang sedang kuliah di luar negeri.
Kulihat Aji menunduk dalam, matanya merah. dan mengalirlah air mata di wajahnya. Kita memang kehilangan....
sangat kehilangan......
........................
........................
12 Juni 2005.... itulah terakhir kali aku menjumpai sahabatku.... saudaraku....juga guruku....
Mas Upi bilang, "Meski aku baru kenal dia hari ini, tapi aku tau kalau Sodik adalah orang baik, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuknya..."
....................
Ya Allah... ampuni kesalahnnya, maaafkanlah dia... tempatkan dia bersama orang-orang kesayanganMu. Bahagiakanlah dia disana ya Allah...


kangritchie wrote on Jun 24, '05
Ya Allah... ampuni kesalahnnya, maaafkanlah dia... tempatkan dia bersama orang-orang kesayanganMu. Bahagiakanlah dia disana ya Allah...
amin....Allahuma amin
unisa81 wrote on Jun 26, '05
subhanallah..
sabar ya mbak..
moga2 hilangnya satu, diikuti dengan munculnya seribu sosok yg seindah beliau..
prajuritkecil wrote on Jun 26, '05
ReviewReviewReviewReviewReview
hmm... hiks...hiks..
semoga saja... semoga...
amin, ya Allah...
ochid99 wrote on Jul 9
ohh...Allahumaghfirlahu....warhamhu...wa'afini wa'fu'anhu...
prajuritkecil wrote on Jul 10
ReviewReviewReviewReview
amiin
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help