Mengutip

Category:Other
NYESEK, LEGA, ... NGERI !!
Catatan pinggir seorang kader PKS tentang Pilgub Jabar 2008.

Nyesek

Berita terakhir dari Ketua DPD (TPPD) bahwa tidak tersedia dana untuk uang transport saksi. Harap DPC konsolidasi. Bobar (Bogor Barat) memerlukan Rp 16.7 jt utk kepentingan ini. Ana pribadi setelah kokoreh di dapur dan tawakkal, bismillah menginfakkan Rp 1 jt. Ana mohon antum semua melakukan hal serupa.

Itulah SMS yang saya terima bada Shubuh, Sabtu lalu (12 April), sehari menjelang pilgub kemarin. Saya kenal persis si pengirim SMS itu, dan tahu betul bahwa penghasilannya per bulan mungkin sekitar Rp 2 jt. Saya juga tahu bahwa dia sekarang sedang nyicil kredit rumah. Kesediaannya menginfakkan dana sebesar Rp 1 jt membuat mata saya berlinang; hampir setengah dari penghasilan bulanannya. Teringatlah kisah sahabat yang menginfakkan setengah dari hartanya.

Kalaulah itu hanya dilakukan sekali saja, mungkin tidak terlalu mengherankan. Tetapi hanya 2 malam sebelumnya, semua grup pada semua level dikumpulkan per DPC untuk melakukan pertemuan gabungan. Di sana jelas disampaikan anjuran untuk siap berjuang melakukan jihad siyasi dalam pilkada hari Ahad itu. Di samping kesiapan mobilisasi berjihad dengan waktu, pemikiran dan tenaga, tentu infaq dengan maal merupakan hal yang ditekankan dalam liqo gabungan itu. Taujih demi taujih tentang keutamaan berjihad dengan harta, pembangkitan optimisme, dan keyakinan bahwa kemenangan di jalan Allah itu bukan fungsi dari kebesaran harta dan jumlah pasukan, mengiringi suasana khusyu yang menyelimuti semangat menggeloran dalam hati setiap kader yang hadir di sana.

"Berinfaqlah sampai antum jadi nyesek (sesak di dada)!" begitu kata seorang ustadz ketika menerangkan ayat Al Quran: “Tidaklah kalian akan sampai kepada kebajikan, sampai kalian menginfakkan apa-apa yang kalian cintai! Yang kita cintai itulah yang kalau kita infakkan membuat sesak di dada. Kalau antum infaq Rp 50 ribu tetapi dada antum masih tenang, berarti itu belum menginfakkan apa yang antum cintai. Tambah lagi jadi Rp 100 ribu, tambah lagi dan tambah lagi, sampai suatu saat antum merasa nyesek di dada antum. Itulah tanda bahwa antum menginfakkan apa yang antum cintai, yang antum merasa berat untuk melepasnya!

Bisa dibayangkan, Kamis malam sudah infaq habis-habisan. Sabtu pagi, muncul SMS lagi seperti di atas. Sebelumnya lagi, setiap hari Ahad selama beberapa pekan diadakan Apel Siaga yang tentu saja kader selalu diminta untuk berinfaq. Makanya, sunduquna juyubuna.. betul-betul dirasa. Kantong-kantong kader betul-betul diperas habis. Sehingga kalau diperas lagi, mungkin yang keluar adalah darah.

Sabtu itu saya membalas SMS tadi. Saya siapkan infaq dalam jumlah yang cukup membuat dada saya sesak (ya Allah, limpahkanlah keikhlasan ke dalam hati hamba..!). Tetapi saya yakin, rasa sesak saya itu tidaklah sebesar rasa sesak kader yang menginfakkan setengah dari penghasilannya tadi. Dan saya bayangkan lagi, betapa banyak lagi kader yang tingkat penghasilannya lebih rendah daripada itu. Betapa sesaknya dada-dada mereka ketika mereka merogoh kantong-kantong mereka untuk membiayai pelaksanaan operasional segala tetek bengek yang perlu untuk pemilihan gubernur ini.

Kalau tim sukses HADE mengatakan bahwa dana kampanye yang dikeluarkan adalah Rp 800 juta totalnya, itu belum termasuk dana yang dikeluarkan kader di grass-root. Dana yang dikeluarkan mereka dengan ikhlas, yang mereka tidak perlu tanda terima, tidak perlu ucapan terimakasih. Dana yang ketika diberikan, tidak disertai harapan bahwa dana itu akan balik kepada mereka dalam bentuk apa pun. Dana itulah yang langsung digunakan oleh level-level struktur terbawah seperti DPD, DPC dan DPRa yang langsung bergerak di tengah-tengah masyarakat.

Militansi Kader

Pagi ini di TV saya melihat seorang pengamat politik yang selama ini biasanya berkomentar tidak terlalu simpati dengan PKS, mengakui bahwa mesin politik (networking) PKS yang luar biasa yang menyebabkan kemenangan pasangan HADE. Dan itu memang terlihat betul di lapangan.

Pilgub ini adalah pemilihan pertama yang saya alami secara langsung di tanah air. Jadi ini adalah kali pertama juga, saya terlibat langsung dengan segala aktivitas kader di level yang paling bawah yang terkait dengan sebuah pemilihan. Dan apresiasi serta kekaguman pun lahir dari diri saya.

Selama 4 pekan berturut-turut, kader dikumpulkan per DPC dalam sebuah Lailatul Katibah (mabit bersama) dan Jalasah Ruhiyah sore hari. Kekuatan ruhiyah digenjot terus. Setelah mendapatkan siraman ruhani, sholat lail, wirid dan dzikir bersama, selesai Lailatul Katibah ini maka kader disebar ke berbagai kelurahan untuk melakukan Direct Selling, penjualan langsung door to door.

Subhanallah. Kadang kita sering menjadikan mabit sebagai alasan untuk bisa tidur siang lebih panjang. Tapi ini setelah mabit, kader langsung menyebar, mengetuk pintu-pintu masyarakat. Memperkenalkan diri dengan santun, memberikan sosialisasi tentang pilkada ini (well, ini mah seharusnya tugas KPUD), dan baru minta ijin dengan baik-baik untuk mengenalkan calon gubernur dan wakilnya kepada masyarakat. Ini dilakukan pada 4 Ahad berturut-turut, mabit malamnya dan terus menyebar ber-direct selling pada pagi harinya.
Ini tentunya di luar kegiatan rutin yang biasa dilakukan kader langsung di tengah masyarakat seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, bazar sembako murah, dsb.

Keikhlasan yang luar biasa. Tidak ada di benak para kader ini bahwa ketika HADE menang, mereka akan diangkat menjadi tim tenaga ahli atau akan mendapatkan tempat khusus di lingkaran dekat kekuasaan. Jabatan tangan saja dari gubernur terpilih, mereka tidak akan dapatkan. Mereka berjuang ikhlas karena yakin bahwa kebaikan pada masyarakat akan tersebar dengan menangnya calon yang mereka usung.

Perjuangan kader tidak terhenti sampai di sana. Selama seminggu terakhir, diadakan ronda malam bergiliran. Tujuannya sederhana: menjaga agar atribut kampanye (stiker, spanduk, baliho) yang kita pasang, tidak dirusak oleh pihak-pihak lain. Buat sebagian kita, melihat stiker tertempel di tiang listrik tetapi kondisinya tersobek, mungkin biasa-biasa saja. Tetapi bisa kita bayangkan, betapa pedihnya hati kader yang menempelkan stiker itu melihat hasil tempelannya itu dirusak orang lain. Karena itu, semua atribut harus dijaga, dan kader rela mengorbankan tidur malamnya untuk itu.

Kemudian di malam terakhir, ronda malam juga diintensifkan dengan tujuan mengawasi jangan sampai terjadi pembagian sembako atau amplop kepada masyarakat di jam-jam terakhir menjelang pemilihan. Bisa diyakinkan, para kepanduan kita akan berjaga dan siap meluncur apabila ada pelaporan hal-hal seperti itu terjadi.

Perjuangan para akhwat juga luar biasa. Di Direct Selling, mereka yang paling semangat. Waktu kampanye, mereka juga melaksanakan aksi kampanye simpatik. Berdiri di perempatan-perempatan jalan, membagikan bunga-bunga yang mereka rangkai sendiri dan menyapa setiap pengendara kendaraan. Di hari pelaksanaan, mereka bergantian menyediakan konsumsi untuk para saksi, meskipun tidak sedikit yang juga bertindak sebagai saksi.

Melihat keikhlasan dan militansi kader dalam berjuang dan berinfaq seperti di atas, mulut ini sempat bergumam: Seandainya mereka yang terpilih menjadi anggota legislatif atau duduk di jabatan eksekutif, kemudian melupakan para kader, menjadi jauh dengan para kader, tidak memiliki empati dan sensifitas terhadap kebutuhan kader, malah menjadi kaya dengan memanfaatkan jabatannya, maka sungguh itu adalah sebuah KEDZHALIMAN yang SANGAT BESAR!

Lega

Saya memilih di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Warganya tentu relatif terpelajar dengan kondisi ekonomi yang juga relatif lebih stabil dibanding masyarakat kebanyakan. Ditambah dengan aktifitas ke-Islaman yang baik, tidak ada kekhawatiran akan terjadi kecurangan dalam proses pelaksanaan pemilihan kemarin. Yang ada adalah memang rasa optimisme bahwa HADE akan menang di kompleks itu.

Tidak hanya di kompleks perumahan tempat saya tinggal, kader di Kota Bogor tidak tanggung-tanggung memasang target perolehan suara 51% untuk HADE. Di samping kontribusi untuk pilgub, ini juga sebagai batu loncatan untuk pemilihan walikota di bulan Oktober mendatang. Jeblok di pilgub, jangan harap akan bisa bangkit untuk pemilihan walikota, karena jeda waktu yang kurang dari 6 bulan.

Ketika perolehan suara dihitung satu per satu di TPS tempat saya memilih, pasangan HADE langsung melejit memperoleh suara terbanyak. Sekitar 60%. TPS-TPS lain di kelurahan saya juga menunjukkan hal yang sama.

Muncullah rasa lega menggantikan rasa sesak yang mungkin masih terasa sampai malam sebelumnya. Lega karena perjuangan berat dan luar biasa para kader, ternyata Allah SWT balas langsung di dunia ini juga (tanpa melupakan harapan kita akan balasan yang lebih baik di akhirat tentunya). Apalagi ketika pulang ke rumah usai menyaksikan perhitungan suara di TPS, tayangan TV menyiarkan hasil quick-count pilgub itu. Semua lembaga menyebutkan bahwa HADE unggul!

Allahu Akbar Walillahilhamd! Itu adalah bunyi SMS dari kader yang kemarin mengatakan akan berinfaq Rp 1 juta itu. Perhitungan suara terus dilakukan. Tersebar SMS dari Ketua DPD bahwa di Kota Bogor, HADE berhasil mengumpulkan suara sebesar 52% dari hasil perhitungan semua jumlah suara yang sah. Allahu Akbar Walillahilhamd!

Perasaan lega dan kekaguman terhadap perjuangan kader ternyata tidak berhenti. Muncul SMS berupa instruksi: Wajib bagi para kader untuk mengawal kotak-kotak suara dari TPS ke PPS ke PPK. Kegiatan ronda malam tetap dijalankan, tetapi sekarang bergiliran di PPK (Panita Pemilihan tingkat Kecamatan) untuk menjaga kotak-kotak suara jangan sampai ada yang mengganggu. Jadwal pun dibuat. Setiap grup halaqah wajib mengirimkan 1 wakilnya pada jadwal yang sudah disepakati. Kita akan terus mengawal perolehan suara kita!.

Ngeri

Setelah suasana kelegaan dan euforia, dalam perenungan kemudian muncul perasaan ngeri. Ngeri kalau kita tidak bisa mengemban amanah kepemimpinan ini. Ngeri kalau janji-janji tidak bisa direalisasikan. Bukan karena tidak mau, tetapi karena berbagai hambatan praktis di sistem birokrasi kita.

Pertanyaan-pertanyaan sudah mulai mengarah. Bagaimana PKS dan PAN bisa melakukan komunikasi politik dengan DPRD yang dikuasasi 3 raksasa: Golkar, PDIP dan PPP, sehingga program-programnya tidak dijegal dan bisa jalan? Bagaimana kalangan birokrasi di Pemda Provinsi bisa diarahkan semuanya ke satu tujuan yang sama? Ibarat tubuh manusia, yang baru kita menangkan adalah kepalanya. Sedangkan kaki, tangan dan anggota tubuh lainnya? Sebuah pertanyaan yang besar.

Para kader PKS berjuang, memeras keringat dan kantong dana, karena mereka yakin bahwa dengan memiliki amanah kepemimpinan, akan lebih banyak lagi kebaikan yang bisa ditebarkan kepada masyarakat. Semoga keyakinan dan harapan itu memang bisa terwujud.

Bogor, 14 April 2008
Sehari setelah Pilgub

dari milis Pusat Informasi dan forum diskusi Partai Keadilan Sejahtera di Amerika dan Kanada

(fotonya Pak Ahmad sama Alm Ust Rahmat Abdullah)


ReviewReviewReviewReviewGreen Tea CheesecakeMar 17, '08 7:10 AM
for everyone
Category:Other
Pertama kali coba es krim rasa green tea di nikahan temen. Eh...enak bangeeeet. Trus, beberapa kali lihat resep green tea cake. Eh, kemaren dapet kesempatan buat bikin green tea cheese cake. Fyuuuh....biar kata harus hunting es krim vanilla seperempat liter lebih... dijabanin deh. Dan ternyata hasilnya... enaaaak....
mungkin lebih enak lagi kalo udah lama di freezer ya.... kan kemaren cobain waktu ada sisa adonan...:p

Makasih ya Siska... atas pesanannya. Salah satu kelebihan green tea cheesecake ini, aroma dan rasanya bisa keluar lebih tajam daripada blueberry, strawberry ataupun coklat cheesecake yang chilled.


ReviewReviewReviewReviewReviewMemimpin Minus PengawalMar 17, '08 5:26 AM
for everyone
Category:Other
Sehari Bersama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Memimpin Minus Pengawal


Ia menyemir sepatu sendiri.

Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48 tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.

Pukul 05.10, seusai salat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2 rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di situ.

Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten), Allaâ 'Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib, satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.

Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada, Hidayat ingin selalu melepas, nguntapke, Hubaib berangkat sekolah.

Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan dua kali istirahat masing-masing lima menit.

Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran Klaten ini selalu memenangi pertandingan.

Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttle cock. Dia suka badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.

Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan bulu tangkis di samping kontrakan.

Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.

Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21 inci dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.

Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng, sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng, sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.

Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel, botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia gemari.

Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan yang mewajibkan jas.

Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu, misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat rumah pribadinya.

Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan Hidayat, juga telepon seluler Nokia--bukan Communicator. Kastian membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. "Ini kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya)."

Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.

Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya. Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai 2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.

Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang tidak dipakai dimatikannya.

Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai, Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.

Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.

Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet, perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya. Sebulan sekali dia potong rambut di situ. "Ongkosnya Rp 9.000 sekali cukur."

Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.

Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan, Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah--organisasi perempuan Muhammadiyah. Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.

Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan. Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri untuk nonmuslim.

Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20 menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju gedung MPR/DPR untuk menerima delegasi dari PPI.

Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa beberapa dokumen dan menekennya.

Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat hubungan Indonesia dengan Turki.

Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, "Rusaknya demokrasi di Timur Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda."

Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia, Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. "Jadi jangan Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri."

Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat. Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci yang bagian atasnya sedikit robek.

Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul 16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta yang lagi populer.

Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.

Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi tanpa voorrijder. "Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja." Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang, tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan--pendiri Muhammadiyah--yang akan dibikinnya.

Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.

Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat menempuh pendidikan di Madinah.

Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.

Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru, tanpa pengawal dan voorrijder.

Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.

Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan menutup hari dengan membaca Al-Quran. ERWIN DARIYANTO/ Koran Tempo


ReviewReviewReviewReviewGregetan abis Nonton Ayat-ayat CintaMar 5, '08 2:14 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
suatu hari, temen-temen se-ruangan di kantor dapet kesempatan nonton bareng ayat-ayat cinta. Setelah sebelumnya dikomporin sama Mister Yey dan Mister Irf, yang udah nonton duluan. Hanung kereeeen bangeeeet...!!! Kita harus belajar banyak dari Hanung. Gitu kata dua Mister duduls itu ngomong.
Ya sudah.... akhirnya dateng pula kesempatan nonton barengan. Sedihnya, kita nonton lengkap dengan dua mister itu.

Jreeeng....film pun dimulai
Fahri muncul di layar, ada Nurul yang clingak clinguk ngambil foto fahri yang dipasang di mading. Dan Mister Yey pun berkata, "waaahh... ketauan akhwat tuh kayak gitu kalo demen sama ikhwan". Kita-kita yang cewek langsung sebel donk... Iddih...sori-sori aje kayak gitu... gak kerjaan lain apa! sewot ceritanya. Apalagi muncul gambar ntu Nurul nempel foto fahri di diary nya. Halaaah.... tambah sebel aja, pas denger dua mister itu ketawa gedeee....

Pas Fahri nikah sama Aisha, barisan patah hati pun tampil di layar. Mister Irf pun berkata, "segitunye ye.... akhwat kalo ditinggal kawin sama ikhwan". Errrgghhh..... bete banget sih nih orang. "Pak, emangnya laki-laki di dunia cuma satu... gak ada cowok ganteng laiin..??" temenku yang satu sewot juga. Mister Irf kembali cecengiran ngeselin bareng Mister Yey.

Aisha nyuruh Fahri nikah sama Maria. "Tuh Ra... liat tuh... Yo...liat tuh..." Kali ini aku sama suami yang kena tembak. "Wooiii...gak konsen wooiii nontonnye..." sebel!

dan berlalulah film ayat-ayat cinta dari hadapan kita semua tanpa ada rasa apapun juga. Gak ada cerita nangis-nangisan... apalagi yang beruraian air mata. Sesegrukan??? Gak mungkin bangeeeet... Yang ada kita "kegandengan" sama tingkah duo mister duduls itu.

Jadi tiap kali kalo ada yang nanya, nangis gak nonton ayat-ayat cinta....? Gimana mo nangiiiiisss....kalo kite nonton ada komentator handal di kanan kiri.....

Yang ada kalo disebut ayat-ayat cinta, ingetnya si dua makhluk itu... PENGEN NYAMBIIIIITTTTT, eeeughh!!!!

ReviewReviewReviewReviewReviewKalau Bukan Demokrasi, Apa?Jan 7, '08 11:19 PM
for everyone
Category:Other
Kalau Bukan Demokrasi, Apa?
Rabu, 26 Desember 2007

TEMPO Interaktif, Jakarta: Persoalan reshuffle kabinet mengemuka sebagai langkah politik yang ditunggu pada awal 2007. Namun, sejumlah diskusi penutup akhir tahun justru mulai meragukan demokrasi. Sungguh ironis, para peragu atas demokrasi itu datang dari komunitas masyarakat sipil dan politik. Mereka berkata, betapa demokrasi berbiaya mahal, persoalan sepele dibahas berbulan-bulan, keindonesiaan ditelanjangi, olahraga selalu kalah, sedangkan rakyat tetap miskin.

Sikap lelah atas demokrasi sama berbahayanya dengan ketakutan atas sistem monarki dan diktatorial. Kita masih ingat petuah Tan Malaka, betapa yang sama berpengaruh buruk atas republik adalah kolonialisme dan feodalisme. Ketika kolonialisme tertendang dan feodalisme memudar, kekuasaan menjadi personal dalam orasi Bung Karno dan senyum Soeharto.

Ahli sayap pesawat terbang lulusan Jerman, Profesor Dr B.J. Habibie, mereparasi keindividuan kekuasaan itu dengan menyodorkan demokrasi. Dan Habibie menjadi korban pertama demokrasi yang dia lahirkan, yakni ditolak menjadi presiden hasil pemilihan umum. Abdurrahman Wahid, yang seluruh hidupnya bertumpu pada ranah demokrasi kultural, ikut-ikutan terjungkal lewat demokrasi struktural dan prosedural.

Bangsa malang ini lantas mendapatkan seorang jenderal purnawirawan lagi, setelah Soeharto, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Tentu ia bukan peracik sajian demokrasi itu, kendati mendirikan Partai Demokrat. Sejauh ini Yudhoyono pantas disebut sebagai aktor penting yang gandrung akan demokrasi. Yudhoyono tidak tampak seperti jenderal, walau muncul sinyalemen bahwa ia lebih berperilaku sebagai menantu jenderal. Saking demokratisnya, Yudhoyono lebih berupaya memperkuat sistem multipartai ketimbang sistem presidensial. Ia memberi porsi kepada wakil-wakil partai di kabinet.

Doktrin Kalla

Lain lagi Jusuf Kalla, sekondan Yudhoyono. Ia terlalu menimbang untung dan rugi dalam neraca demokrasi. Tidak mengherankan kalau Kalla sering menuduh demokrasi tidak efektif dan inefisien. Biaya demokrasi terlalu mahal. Pemilu legislatif harus bersamaan dengan pemilu eksekutif. Kalau bisa, pemilihan kepala daerah digelar serentak. Demokrasi bukan tujuan, melainkan alat mencapai tujuan. Begitulah bunyi "doktrin Kalla".

Ironis, banyak yang mengikuti doktrin Kalla. Dr Amir Santoso (Pelita, 16 Desember) dan Radhar Panca Dahana (Seputar Indonesia, 19 Desember) mulai mengutuk demokrasi. Lembaga Ketahanan Nasional mengatakan gubernur seharusnya ditunjuk saja oleh presiden. Para aktivis juga ikut-ikutan menyatakan demokrasi mengubah Indonesia menjadi negara politikus, setelah tampak seperti negara polisi. Kaum muda menyatakan saatnya mereka berkuasa, tapi emoh masuk partai politik.

Tapi doktrinasi sudah kehilangan tempat. Para politikus di Senayan menolak keras doktrin itu. Ya, masyarakat yang mengatakan partai politik paling tidak dipercaya barangkali menganggap bahwa yang untung dengan demokrasi hanya segelintir partai politik dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, sebagaimana tuduhan Amir Santoso. Maka wajar-wajar saja partai politik mendukung demokrasi.

Bangsa Indonesia memang tidak pernah sabar atas demokrasi. Seusai Pemilu 1955 yang ultraliberal, empat tahun kemudian Soekarno tidak lagi menjalankan pemilu, dengan mengeluarkan konsep demokrasi terpimpin. Hasilnya, Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup. Soeharto, atas nama demokrasi Pancasila, malah bertahan lebih lama. Hanya mahasiswa bandel dan cendekiawan keras kepala yang membangkang, tapi segera menghuni pintu penjara.

Dengan pola kediktatoran terselubung itu, rakyat memang terlihat sabar. Hanya, sejarah mencatat betapa hak-hak warga negara terampas, pelanggaran hak asasi manusia meningkat, serta kekayaan menumpuk hanya di segelintir konglomerat hitam.

Sewindu

Hanya delapan tahun sejak Pemilu 1999, ada yang mencoba mengusik lagi ketidaksabaran rakyat atas demokrasi. Belum ada yang menawarkan monarki atau diktatorialisme. Pola partai tunggal juga tidak diberi alternatif. Adapun teokrasi terdengar sayup-sayup sampai dalam teriakan-teriakan di jalan-jalan. Berarti penolakan atas demokrasi disertai oleh ruang hampa menganga, tanpa tawaran apa-apa. Sabdo pandito ratu? Manunggaling kawulo-gusti? Atau Ana al-Haq?

Politik 2007 memang penuh dengan pemilihan kepala daerah serta sengketanya. Juga barisan politikus dan pejabat yang masuk penjara. Mereka ada pada pucuk pemimpin lembaga atau organisasi yang disebut sebagai tulang belakang demokrasi, yakni partai politik. Mereka besar dan dibesarkan oleh coblosan para pengemis serta orang lapar, penyakitan, dan berpendidikan rendah di kotak-kotak suara. Sebagai pemulung suara rakyat dengan jabatan terhormat, mereka tak segan mempertontonkan fasilitas mewah yang diterima.

Tapi apa benar demokrasi yang menjadi tersangka silang-sengkarut itu? Rasa-rasanya bukan. Kalau demokrasi tidak hadir, barangkali pasukan loreng masih merajalela di jalan-jalan. Preman berpentung dan menggunakan sangkur di pinggang juga terus memburu pedagang kaki lima. Warung-warung makan beratap rumbia dipenuhi oleh gambar pemilik warung bersama orang-orang berpangkat. Ruang-ruang tamu orang-orang pasti dihiasi foto salaman dengan pejabat.

Jelas sudah, demokrasi menghilangkan pangkat orang berpangkat. Presiden pun mudah dituduh tidak punya nyali atau memilih orang-orang tak tepat. Apabila tidak suka dengan keputusan presiden, bisa Anda gugat di pengadilan. Para ulama yang kehilangan terompah di tangga Istana diam-diam ditinggal umatnya. Menteri-menteri yang doyan bernyanyi tak lagi bisa dihafal nama-namanya oleh para pelajar. Buku-buku yang tak masuk akal disobek-sobek atau dicorat-coret hingga tak bisa lagi dibaca.

"Minimal kami punya satu suara untuk menentukan ini negeri, Tuan!"

Itu jawaban atas soal-soal demokrasi yang diseret-seret ke wilayah abstrak dan filosofis itu. Selain rakyat, Anda semua adalah pengemis. Memang, Anda gagah di depan kami, tapi tanpa suara kami, Anda terus menghinakan diri. Demokrasi terang sekali memberi makna substantif, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kini Anda presiden, besok pagi silakan jadi pesinden. Kemarin Anda susah dicari ketika berkuasa, hari ini Anda harus menyediakan secangkir kopi dan sepiring gorengan untuk membujuk para wartawan datang.

Delapan tahun terlalu singkat untuk sekadar lelah dengan demokrasi. Bagi ukuran pelajar, masih setahun lagi lulus sekolah menengah serta belum tentu lulus masuk perguruan tinggi negeri. Usia sewindu hanya memanjangkan beberapa depa pohon kelapa tradisional, kecuali kelapa salak yang bisa berbuah dalam usia satu setengah tahun. Artinya, kalau Anda lelah dengan demokrasi, panjat saja sebatang pohon kelapa berusia 20 tahun. Paling Anda berkeringat atau terjatuh, tapi batang pohon itu tetap tertancap kukuh.

Tanpa kearifan intelektual dan kegigihan bak pejuang, demokrasi memang terlihat menyedihkan. Hanya, bangsa ini belum pernah benar-benar hidup berdampingan dengan demokrasi. Akibat-akibat negatifnya berusia lama, termasuk kegamangan atas demokrasi yang mengalir dalam pena para penolaknya.

* Indra Jaya Piliang, Analis Politik dan Perubahan Sosial Center for Strategic and International Studies, Jakarta

Category:Other
Tema: Jangan Menyerah Karena Kemikiskinan!
MC: Lula Kamal dan Asty Ananta
Tgl 6 Oktober 2007
Taman Menteng, Jakarta Pusat

13.00 - 13.10 : Sambutan Panitia
13.10 - 13.40 : Chatting with Fauzi Bowo "Memahami Perda Ketertiban Umum DKI"
13.40 - 13.55 : Lelang Lukisan Kaos --> dipandu oleh MC dan Ari, dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan secara simbolik oleh Pak Fauzi, Pak Hidayat, dan Ibu Ari Sarining Diyah kepada anak2
13.55 - 14.05 : Selingan pentas anak2 jalanan/Panti Yatim Piatu
14.05 - 14.35 : Sharing Life with Hidayat Nurwahid --> format: duduk melingkar bersama
14.35 - 14.45 : Selingan pentas anak2 jalanan/Panti Yatim Piatu
14.45 - 15.05 : Religious Story Telling with Inneke Koesherawati --> script by Lisa lifevolution
15.05 - 15.20 : Sholat Ashar --> siapa yang memimpin nih?
15.20 - 16.20 : Workshop Ketrampilan --> semua MPers ikut terlibat yaaa...
16.20 - 17.15 : Outbound Games --> semua MPers ikut terlibat juga yaaa..
17.15 - 17.30 : Debriefing Outbound oleh Asma Nadia ---> memetik pelajaran akhlak mulia dari outbound --> interaktif
17.30 - 17.45 : Hiburan oleh Mas Faiz
17.45 - 17.55 : Pencerahan Hati (Kultum) oleh Taufiq Ismail
17.55 - 18.10 : Takjilan Buka Bersama
18.10 - 18.25 : Sholat Maghrib --> dipimpin oleh Pak Taufiq
18.25 - 18.40 : Penyerahan bingkisan oleh semua MPers kepada anak2
18.40 - 19.00 : Foto Keluarga
19.00 : Sayonara

So... Jangan sampe gak ikuuuuuuuuuuuuuuuuuuut!!!!


Yang mau nyumbang ta'jil buat ifthor hayuuuuuuuuuuuuuk...silakan....!


ReviewReviewReviewReviewReviewAku Ingin Anak Lelakiku MenirumuSep 18, '07 5:04 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Neno Warisman
Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu

Oleh : Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur'


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!" Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku." Aku mengangguk.
Suamiku kembali bekerja seperti biasa.




Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."




Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.




Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran
matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.


Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.




Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"


Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.





Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.



Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.


Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"



Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.




Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.


Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."


Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia,
dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah


nyontek dari postingan temen

ReviewReviewReviewReviewReviewYANG BERJATUHAN DI JALAN DA'WAHJul 5, '07 8:59 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Fathi Yakan
Dari buku: YANG BERJATUHAN DI JALAN DA'WAH

Oleh : Fathi Yakan

I. PENDAHULUAN

Da'wah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan da'wah akan diperoleh apabila para anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan da'wah.



Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada anggota da'wah yang berjatuhan, baik bentuknya penyelewengan, penyimpangan, pengunduran diri dan sebagainya, sebelum meraih kemenangan. Fenomena ini tidak bisa dihindari, sehingga ada sebagian orang memandang hal ini sebagai suatu fenomena yang wajar / sehat guna memperbaharui sel-sel intinya, dan membebaskan da'wah dari segala hal yang memberatkan dan menghambat pergerakan.



II. FENOMENA YANG BERJATUHAN DI ZAMAN NABI

Pada zaman Rasulullah saw, sudah terjadi fenomena pembelotan para anggota jama’ah untuk melepaskan tanggung jawab ataupun sekedar bermalas-malasan dalam berda’wah. Beberapa peristiwa berjatuhan di jalan da'wah yang sempat terjadi adalah:

a. Kelompok mutakhollifin (orang-orang yang tidak berangkat) pada perang Tabuk, diantaranya: Ka’ab bin Malik, Muroroh Ibnu ‘Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Namun mereka bertiga ini kemudian diterima taubatnya oleh Allah swt, dan penerimaan taubat mereka diabadikan di dalam Al Qur’an dalam surat al Bara-ah, dan karena pertaubatan besar inilah surat ini juga dinamakan surat at-Taubah.

b. Pembocoran rahasia negara oleh Hathib bin Abi Balta’ah. Namun mengingat kebaikan masa lalunya, yaitu keikut sertaannya dalam perang Badar yang merupakan yaumul furqan, Rasulullah saw mengampuni dan tidak menghukumnya.

c. Haditsul Ifki (berita kebohongan besar) terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. Diantara orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, ada tiga sahabat nabi, mereka telah mendapatkan hukuman had, yaitu masing-masing di dera 80 kali, dan setelah itu merekapun bertaubat. Mereka itu adalah: Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy dan Misthah bin Utsatsah.

d. Pengkhianatan Abu Lubabah yang membocorkan rahasia hukum yang akan diterapkan kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Dia telah menyatakan taubat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, dan Allah swt-pun telah menerima taubatnya.

e. Peristiwa berdirinya masjid dhirar.

III. SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

a. Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan

1. Lemahnya segi pendidikan.

2. Tidak menempatkan personal dalam posisi yang tepat.

3. Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu.

4. Tidak adanya monitoring personal secara baik.

5. Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat.

6. Konflik intern. Konflik intern ini disebabkan oleh:

- Lemahnya kepemimpinan.

- Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebar fitnah.

- Perbedaan watak dan kecenderungan individu.

- Persaingan dalam memperebutkan kedudukan.

- Tidak adanya komitmen dan penonjolan tingkah laku individu.

- Kevakuman aktifitas dan produktifitas.



Dalam sejarah, konflik yang pernah terjadi antar ummat Islam adalah pada peristiwa konflik golongan Aus dan Khazraj. Dalangnya (provokatornya) adalah orang-orang Yahudi, yaitu Syammas bin Qais. Atas prakarsa Rasulullah saw maka golongan Aus dan Khazraj bersatu kembali. Hal tersebut terbukti dengan turunnya QS Ali Imran: 100 – 105.

7. Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified. Sebabnya antara lain:

- Kelemahan dalam kemampuan idiologi.

- Kelemahan dalam kemampuan organisatoris.

Oleh karena itu, seorang pemimpin yang diangkat haruslah memiliki syarat:

- Mengenal da'wah.

- Mengenal diri sendiri.

- Pengayoman yang kontinyu.

- Teladan yang baik.

- Pandangan yang tajam.

- Kemauan yang kuat.

- Kharisma kepribadian yang fitri.

- Optimisme.



b. Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu

Yaitu berjatuhannya anggota disebabkan oleh atau bersumber pada pribadi anggota.

Yang termasuk dalam hal ini adalah:

1. Watak yang tidak disiplin, sehingga menyebabkan dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi / jama’ah.

2. Takut terancamnya diri dan periuk nasinya (QS 4 : 120, QS 3 : 175).

Tersebut dalam hadits:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي).

“Syurga dipagari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menyenangkan”. (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).

3. Sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.

Tersebut dalam hadits:



“Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama. Sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam beragama”. (HR Ahmad dan An-Nasai).

4. Sikap terlalu memudah-mudahkan dan meremehkan.

Tersebut dalam hadits:



“Sesungguhnya kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan dosa menurut pandangan mata kamu lebih halus dari rambut. Di masa Rasulullah saw, kami menggolongkan perbuatan itu termasuk al muubiqoot (hal-hal yang menghancurkan)”. (HR Bukhari).

5. Tertipu kondisi gemar menampilkan diri (QS 28 : 83).

6. Kecemburuan terhadap orang lain / kedengkian. (QS 5 : 27 – 30).

7. Bencana senajata / penggunaan kekuatan.

Syarat-syarat penggunaan kekuatan:

- Habis segala usaha dengan jalan lain.

- Urusannya dipegang oleh pimpinan dan jama’ah Islam dan bukan oleh individu.

- Tidak menjurus pada pengrusakan dan bencana.

- Tidak boleh keluar dari ketentuan syara’.

- Penggunaan kekuatan sesuai skala prioritas.

- Penggunaan senjata harus mempunyai persiapan yang matang dan cermat.

- Hati-hati akan pancingan berbagai reaksi.

- Tidak boleh menjerumuskan ummat Islam bila posisi kekuatan tidak seimbang.



c. Tekanan Luar

1. Tekanan dari suatu cobaan (QS 3 : 175).

2. Tekanan keluarga dan kerabat (QS 9 : 24).

3. Tekanan Lingkungan.

4. Tekanan gerakan agitasi (penyebaran kritik dan keragu-raguan).

5. Tekanan figuritas (QS 7 : 12).

(copy paste dari postingan seorang ustadzah yang ikutan ngempih....http://sitapks.multiply.com/journal/item/7)

ReviewReviewReviewReviewReviewMengajar Balita Calistung?Jul 4, '07 8:11 AM
for everyone
Category:Other

Dalam peraturan pendidikan di Negara manapun mengatakan bahwa pembelajaran baca, tulis, dan berhitung (calistung) adalah di usia sekolah dasar, jelasnya dimulai umur enam tahun. Ee… di Negara kita Endonesia justru pergerakan pendidikan non pemerintah sedang berlomba mengajarkan calistung di TK bahkan plegrup. Suatu kali seorang ibu menunjukkan padaku buku anaknya yang TK. Dalam buku itu si anak menulis nulis kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris, dan membuat hitungan penambahan sampai tiga digit yang jalannya ditambah ke bawah. He? Mataku membelalak. Ibunya bilang, tapi dia bisa.

Banyak testemoni (terutama dari yang punya sekolah) mengatakan begini saat terjadi debat: “Anak TK boleh saja diberi pelajaran calistung, asalkan tidak memaksa dan fun”.

“Lebih cepat lebih baik”. “Anak-anak bisa kok”. Bahkan sering ada iklan CD ROM pelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak yang mengatakan katanya: sudah ada bukti ilmiah bahwa anak-anak lebih mudah mempelajari bahasa asing daripada orang dewasa. Jadi digempurlah anak-anak dengan bahasa asing (ini namanya menyalahgunakan dan mengatasnamakan penelitian). Dan….., saat aku mudik Endonesia kemarin kudapati banyak anak berbahasa belepotan antara bahasa Endonesa dan bahasa Inggris, dan gak tahu lagi mana bahasa ibu dan bahasa asing. Kadang si anak bertanya, bahasa Indonesianya apa? He…. Lho kelak bagaimana dalam memahami bacaan, sebagai pondasi keilmuan yang dipelajarinya?

Anak-anak bisa membaca, menulis, dan berhitung di usia yang begitu dini? Bahkan banyak orang tua yang saling berbagi mengajarkan bayi membaca dengan menggunakan flash card dan dot matriks. Katanya mumpung usia emas, nanti di usia 3 tahun otak selesai pertumbuhannya kalau gak dipakai sel otaknya mati. Malah ada seseorang yang beragumen bahwa otak anak sangat plastis bisa diisi tak terbatas. He…. Sungguh gelo, en bento banget pernyataan itu.

Alasan mengajarkan calistung di usia balita, katanya supaya siap di kelas satu SD. Lho kan kelihatan kalau kita ini rahayat Endonesia memang ketinggalan ilmu kependidikan. Nduk nduk…. Kesiapan pembelajaran itu bukan nyanguin sudah bisa calistung buat di kelas satu SD, tapi kematangan anak dalam menerima pembelajaran (school readiness).

Prasyarat berketrampilan belajaran adalah jika anak matang dalam:

1. Perkembangan bahasa dan bicara

Support anak kita dalam berkemampuan berbahasa dalam bentuk:

- pengucapan yang jelas
- bertanya dan menjawab pertanyaan
- mampu dengan baik mendengarkan orang lain berbicara
- mengerti dan memahami perintah

- bisa menunjukkan bahwa ia mencintai buku bacaan (bukan membacanya)
- memahami bahwa setiap huruf dan kata mempunyai arti bunyian
- mampu mengenali alphabet dan angka
- dapat menggambar dan mencoba menulis dengan cara mengkopi huruf2 (bukan menuliskan kalimat2)



2. Perkembangan kemampuan matematika

Support anak kita agar ia kelak mampu menempuh pelajaran matematika

- memisahkan berbagai benda (bentuk, warna, tekstur)
- menggunakan kata-kata untuk menunjukkan benda-benda tertentu dan apa kegunaannya
- dapat mengidentifikasi dan mengkopi pola-pola sederhana
- menggunakan kata-kata untuk menjelaskan posisi (atas, bawah, depan, belakang) dan urutan (pertama, kedua, selanjutnya)
- menghitung objek
- menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi dan memahami angka dan hubungan (lebih banyak, lebih sedikit, sama banyak, lebih besar, lebih kecil)


3. Perkembangan fisik

- ajari ia agar mempunyai kordinasi motorik kasar yang baik melalui kegiatan berlari, loncat, memanjat, keseimbang, menangkap dan melempar bola, dan seterusnya.
- Perkembangan motorik halus terutama kelenturan pergelangan tangan, kordinasi jari-jari dan kordinasi mata-tangan agar ia bisa menulis dengan baik dengan cara: pasang-buka kancing, menalikan tali sepatu, menggunting, menggambar, menempel-nempel, menusuk-nusuk, meronce, dan seterusnya
- Senantiasa menjaga kebersihan badan dan berpakaian rapih (mandi, gosok gigi)
- Selalu awas terhadap hal hal yang dapat membahayakan

4.Berkemampuan sains

Bukan berarti lalu diajarkan ilmu-ilmu atau sains seperti fisika, biologi dlsb, tetapi dalam hal ini adalah:
- Ajak agar ia tertarik pada lingkungan alam
- Mempunyai kebiasaan bertanya
- Membuat prediksi (memperkirakan hal-hal apa yang dapat terjadi)
- Memanfaatkan panca indera untuk mendapatkan informasi (data)
- Mengumpulkan informasi dan membicarakannya
- Melihat apa perbedaan dan persamaan dari informasi yang dikumpulkan
- Menjelaskan dengan bahasa bicara mengapa sesuatu dapat terjadi



5. Kepekaan sosial

- Jelaskan pada anak kita bagaimana manusia hidup, masa lalu, masa kini, dan di belahan dunia lain
- Cerita-cerita tentang berbagai budaya dan kebiasaan manusia dari beragam kelompok
- Ceritakan bagaimana manusia hidup dan memecahkan masalah hidup, kebiasaan mencari makan (industri, pertanian, pekerja), dan bagaimana manusia dapat hidup bersama-sama dalam suatu kelompok
- Bercerita tentang keluarga, famili, tetangga, dan lingkungan



6. Perkembangan sosial emosional

- Bagaimana bergaul dengan orang lain, bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua, anak-anak, dan anak yang lebih kecil
- Bagaimana membangun dan menjaga persahabatan
- Bagaimana harus mengekspresikan emosi
- Bagaimana harus mengendalikan emosi
- Bekerjasama dalam kelompok, membangun peraturan bermain bersama, saling memberi dan menerima, menunggu giliran, dan menghormati anggota kelompok lainnya
- Bagaimana memulai kegiatan dan mengakhirinya
- Tahu artinya tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya

7. Seni

- menggambar, bernyanyi, dansa, bermain sandiwara, pekerjaan tangan, dlst

8. Disiplin

Buatkan kegiatan terstruktur seperti jam mandi, makan, bermain, cuci tangan sebelum makan, dan gosok gigi.

9. Etika dalam pergaulan

Memberi salam, berterima kasih, minta maaf, dan seterusnya.





Hal-hal di atas adalah school readiness untuk anak-anak pada umumnya, secara garis besar untuk kelompok anak normal, tapi untuk anak yang mempunyai perkembangan acakadut baik yang perkembangannya lompat ke depan maupun tertinggal, dongengnya lain perkara. Jangan disama-samakan. Dan jangan membuat satu kasus digeneralisasi. Hal hal di atas dibutuhkan agar ia mampu mencapai prestasi secara optimal di sekolah. Gangguan perkembangan kematangan sosial emosional saja dapat menyebebabkan ia di buly buly atau diejek-ejek oleh temannya bisa menyebabkan rasa aman dan ketenangannya bersekolah terganggu, akibatnya ia enggan mengasah otaknya di sekolah...

Bagaimana akibatnya jika anak terlalu dini diajar calistung, apa akibatnya, dan bagaimana dampak tumbuh kembangnya ? Entar lain kali lagi dongengnya.


http://juliavantiel.multiply.com/journal/item/31

ReviewReviewReviewReviewReviewAda Kolam Renang Muslimah Nie... Al JannahJun 7, '07 5:13 AM
for everyone
Category:Other
Biar kata udah hampir sepuluh tahun pake jilbab, tapi yang namanya berenang gak boleh terhalang dunks. Malah kayaknya gw lebih sering berenang setelah pake jilbab deh. Cause, pastinya berenang di tempat yang khusus perempuan. Lebih bebas, dan lebih nyaman rasanya.

Setelah gak kuliah, udah lulus maksudnya...eh lolos, kan tempat renang jadi jauh banget tuh. Iseng banget kali kalo mau renang harus ke depok dulu. Atau ke pondok gede, di Al Hakim. Jadi lah aktivitas renang jadi suatu yang mahaaaal banget. Paling bisa kalo lagi di acara keluarga, sewa private vila yang ada kolam renangnya. Itu juga pake baju lengkap sampe kaos kakiiii.

Nah, selasa kemaren gw nemu tempat berenang baru. Deket pula. Di Gudang Peluru, Tebet. Kolamnya gak gitu gede, tapi lumayan. Buka tiap hari, khusus perempuan. Dari jam 7 pagi sampe 9 malem. Tempatnya ada di rumah yang dipake jadi Preschool Alifa. Temboknya tinggiiii...jadi gak bakal ada yang ngintip. Ada pula kolam renang buat anak-anaknya.
Tempt bilasnya juga asik, bersih dan nyaman. Trus malah ada kelas senam khusus muslimah juga.
Pokoknya jadi bakalan sering renaaaaaang deh...!

Jadi yang mau kesana, dateng aja ke komplek gudang peluru. Lokasinya ada di rumah ketiga sebelah kiri dari gerbang. Ada spanduk Alifa Preshool. Masuk aja, bayarnya 10 ribu aja.

apaaa....? Gak punya baju renangnya? Oohh... bisa kok mesen di aye, baju rnang muslimah. Harganya 130-150 ribu... Bajunya yang ketutup gitu kan, ada rendanya. Juga ada jilbabnya pula....

Addduhhhh...... enak kali ye, sore-sore gini renang....

ReviewReviewReviewReviewReviewTukang Jualan SteakMay 27, '07 3:16 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: BBQ / Ribs
Location:Pasaraya Manggarai
Emang sih gw termasuk yang sering berpendapat dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip "kalo ada yang murah ngapain beli yang mahal?". Termasuk untuk urusan susu buat anak. Kalo ada yang gak pake keluarin duit, ngapain pula iseng beli susu yang mahal, apalagi kalau anaknya udah setahun. Iya kan bunda Lita, http://lita.inirumahku.com/health/lita/menyoal-harga-dan-suplementasi-aa-dha-di-susu-formula-bayi/#comments. Alhamdulillah sampe sekarang Adilia masih ASI, dan dikasih tambahan sehari satu kali minum susu UHT.

Tapi kali ini gak bicarain susu kok!

Tau yang namanya steak kan? Berapa sih harga steak di restoran? Biasanya 20-ribuan kan? Kalo di S***LER malah bisa sampe seratus ribuan. Gak tau kalo di tempat lain.

Nah suatu hari, gw diajak makan di sebuah restoran steak. Berhubung ditraktir, okelah. Pas sampe sana kok ya gw rada kaget, seporsi steak lengkap dengan kentang dan salad, paling mahal 28 ribu. Itu pun daging import. Yang paling murah 8500 rupiah. Berhubung gw selalu suka ikan, jadi pesen deh steak ikan, seinget gw harganya 12500.
Secara udah laper, kebayang-bayanglah gw potongan fillet ikan pake saus lada hitam...hmmm nyam-nyam.... enak nie. Gak lama sampe deh steak itu di hadapan gw, saladnya enak. Kentangnya juga oke. Ikannya...????
Potong dulu pake pisau di tangan kanan, trus letakin pisaunya ambil garpu di tangan kanan, comot potongan ikan. Bismillah, hap!

"@#$%^&&^%$&&^%&*"
Ini ikan apaaan...? aneh banget...? batin gw dalam hati. Tapi kan gak boleh mencela makanan ya, jadi deh gw telen lagi potongan kedua, tiga, empat dan seterusnya. Gak lama temen gw nyobain, "wuiiih...rasanya IKAN BANGEEET"
Gw tau maksudnya nih orang, "MAKSUD LO AMIS?"
Cecengiranlah temen gw itu. Ya ternyata gak gw sendiri yang merasa aneh dengan steak ikan itu. Tapi temen gw yang mesen steak daging bilang, "emang rasa ikan kaya gini"

Lha, kok waktu gw pesen di resto lain gak ada yang rasanya ajaib gini. Dan hilanglah nafsu makan gw sore itu. Buru-buru pesen minum buat ilangin rasa aneh di perut.

Kapok makan steak???
Nggak dunks! Yang ada malah pengen cari steak yang enak.

Pagi ini, ada jadwal liputan dan gak sempet makan dulu. Kelar liputan, perut laper, kebetulan lewat Pasaraya Manggarai. Inget di situ ada resto steak dan steak ikannya enak. Waktu itu makan ditraktir anak kost di rumah. Mahal kali ye....? Pikir gw dalam hati. 50 ribuan paling murah, curiga gw. Tapi ya sudahlah, emang lagi mupeng meski gak ngidam. Sampe di foodcourt, gw jadi pengunjung satu-satunya. Dan ternyata steak ikan disitu gak sampe 30 ribu. 20 ribu lebih dikiiiiit. Yang paling mahal tenderloin import, 60 ribu. Hehhehe.. murahan ini dari pada Abuba Steak.

Tapi entah kenapa udah tau murah, masih cari yang paket hemat. Dapet deh, 20 ribu pake teh botol juga.

Pas steaknya dateng, perut gw kan udah laper gitu... nyobain potongan ikan kakapnya..."wuuuiiiihhh....enak bangeeeeet".
Ternyata sekalipun lapar, lidah ini masih bisa bedain mana yang enak mana yang nggak.

Makan dengan cepat. Secara paket hemat, ukurannya pun gak segede harga normal. Lagi masih pengen-pengennya, habis tuh ikan. Yaaaaaa....... gimana neh.

Mo beli lagi? Kayak kebanyakan duit aje ye.... Sudahlah, biar dibuat gitu. Gak kenyang-kenyang banget, tapi puas dengan rasa steak ikan.

jadi, kadang-kadang harga juga menentukan rasa ya.... Meski menurut gw, steak kakap di O'rell ini lebih enak dari pada Abuba yang harganya lebih mahal.


Pesen gw sih, kalo diajak ke resto steak yang murah itu, mending pilih menu yang udah diyakini rasanya "bener" daripada bikin selera makan hilang`

ReviewReviewReviewReviewReviewDan Wimar pun Kembali ditendaaaaang!May 25, '07 6:02 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Education
Bukannya Foke muncul, malah Wimar menghilang.

Bukannya kampanye curang dihentikan, malah yang nanyain dihentikan.


Sudah berminggu-minggu semua orang termasuk Wimar menunggu kehadiran Fauzi Bowo, satu-satunya Calon Gubernur yang belum memenuhi undangan ke Gubernur Kita untuk memperkenalkan diri ke pemilih dan menerangkan visi dan misi sebagai Gubernur mendatang. Padahal banyak sekali pertanyaan untuk Bang Foke, antara lain mengenai niat dia sebagai penerus Gubernur Sutiyoso dan mengenai kampanye terselubung menggunakan duit rakyat.

Setelah episode Gubernur Kita Kamis lalu masih menyinggung etika kampanye Fauzi Bowo, Jak-TV mengaku ke WW mereka ditekan oleh orang Fauzi Bowo, dan akhirnya hari Senin pagi (21/5) memberhentikan Wimar dari tugas panelis Gubernur Kita.

Pemberhentian ini pertama dilaporkan oleh berpolitik.com, Wimar Dipecat dari Gubernur Kita!

Akhirnya terjadi juga. Wimar Witoelar resmi dipecat sebagai panelis dalam acara Gubernur Kita yang mengudara setiap Kamis malam di Jakarta TV. Pemberhentian itu sebenarnya sudah diproses sejak Jumat lalu (18/5). Pihak Jak TV sudah bertemu dengan staf Wimar. Dalam pembicaraan itu, Jak TV meminta Wimar mengundurkan diri. Pasalnya, pihak stasiun yang antara lain sahamnya dimiliki oleh Eric Thohir ini mendapat banyak SMS dari yang mereka sebut sebagai "orang-orang penting" perihal omongan Wimar yang mempersoalkan iklan terselubungnya Fauzi Bowo.

Ketika dihubungi per telpon siang ini (21/5), Wimar setengah bergurau masih sempat bilang, "Ini bab dua, kelanjutannya, he..hee. Kali ini atas perintah orang-orang sekitarnya Fauzi Bowo."

Baca wawancara pertama Wimar mengenai kasus ini di berpolitik.com

Kemudian detikcom juga melaporkan, Kritisi Fauzi Bowo, Wimar Ditendang dari Gubernur Kita:

"Saya diberhentikan tadi pagi. Disampaikan secara lisan, berkali-kali berhubungan dengan staf saya," ungkap Wimar saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Pernyataan lisan itu, menurut Wimar, disampaikan oleh Produser JakTV Martin Mohede.

Apa alasan Martin memberhentikan Wimar sebagai panelis dalam acara yang digelar setiap Kamis malam itu? "Dia minta saya mengundurkan diri karena mengganggu kenyamanan Fauzi Bowo," kata Wimar menyebutkan alasan Martin.

Saat ditanya wartawan yang sama, pihak JakTV memberikan alasan yang berbeda: JakTV Bantah Ditekan Fauzi Bowo:

"...Ini semata masalah Wimar keluar dari komitmen," ungkap Produser Eksekutif 'Gubernur Kita' JakTV Martin Mohede dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Martin, saat acara itu digagas, terjalin komitmen tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. "Kita komitmen acara ini untuk cari solusi. Boleh kritis, tapi ujung-ujungnya solusi," jelas Martin.

Masih mencari siapa yang menekan, detikcom bertanya ke Fauzi Bowo Center yang menjawab: Fauzi Bowo Tidak Menekan JakTV:

"Waduh, fitnah itu. Nggak kepikiran kita melakukan itu," cetus Direktur Fauzi Bowo Center, Makmun Amin, saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Makmun, Fauzi Bowo sendiri tidak pernah berkomentar apa-apa atas acara 'Gubernur Kita' itu. "Tidak logis itu. Tidak pernah juga terlintas di tim pendukung untuk menghubungi JakTV itu," kata Makmun.

Siapapun yang menekan pasti tidak akan mengaku, tapi siapa sih yang diuntungkan dari pemecatan ini? Menurut Faisal Basri dalam liputan berpolitik.com: Citra Fauzi Justru Makin Buruk:

...pemecatan terhadap Wimar sebenarnya justru makin merugikan citra Fauzi Bowo sendiri. Menurut Faisal, tak soal apakah yang melakukan itu orang-orang dekatnya atau memang atas kehendak dirinya sendiri. Selama Fauzi membiarkan atau tak membantahnya, berarti dia bisa dianggap menyetujuinya. Jadi, "Jangan salahkan orang lain jika ada anggapan, 'baru jadi calon saja sudah begitu, bagaimana jika sudah benar-benar jadi Gubernur," ujarnya prihatin.

Sama dengan saat JakTV memberhentikan acara rating tertingginya sendiri, Wimar's World, Wimar tidak ingin berita ini menjadi soal dirinya. Don't worry, WW sih baik-baik saja, karena secara pribadi sudah biasa dibredel sejak jaman Perspektif, Selayang Pandang, Dialog Aktual. Yang perlu dikasihani justru adalah media, penonton, dan kredibilitas acara Gubernur Kita.

Apakah penonton masih bisa percaya acara mengenai Pilkada yang ceritanya mengangkat semua masalah tapi sekalinya mengangkat soal etika kampanye, satu panelis independen dipecat, sementara satu panelis yang disimpan adalah ketua salah satu partai pendukung Fauzi Bowo merangkap anggota tim sukses Fauzi Bowo, dalam acara yang disponsor iklan Fauzi Bowo di setiap break, dari stasiun yang bisnis pemiliknya sangat tergantung pada kelompok Sutiyoso-Fauzi? Jawabannya ada di Anda sendiri...


Cerita Di Balik Layar Gubernur Kita

Masih belum bosan dengan cerita menyedihkan ini dan ingin dengar langsung dari Wimar? Silakan simak transkrip wawancara Wimar di Radio Utankayu 89,2FM KBR 68H Senin (21/5) malam mengenai Gubernur Kita dari awal sampai sekarang dan permasalahan JakTV, beserta SMS dari pendengar radio:

Host Sandra Sahelangi: Selamat malam, bung Wimar?

Wimar Witoelar: Selamat malam, dengan Sandra ya?

SS: Betul sekali. Saya sebenarnya bingung ini mengucapkan selamat atau prihatin atas pemecatan anda. Kalau selamat mungkin karena pemecatan anda berhasil menunjukan kualitas pejabat publik kita dimata masyarakat, prihatin kenapa anda yang harus dieliminasi?

WW: Saya kira, fokusnya jangan pada saya, karena saya sudah hidup lama dalam situasi begini, tapi apa keadaan media kita dan kekuasaan pada saat ini, ya itu saya prihatin.

SS: Sudah deal dihentikan ya?

WW: Sudah ditelepon sebetulnya. sudah beberapa kali pertemuan dengan staff saya. yang terakhir kemaren sore, saya juga ikut. Rupanya mereka itu sebetulnya ingin saya mengundurkan diri jadi kan lebih mudah, tapi saya rasa kalau saya mengundurkan diri itu tidak fair terhadap orang yang mendukung pendapat-pendapat yang seperti saya ini, kok begitu kita menunjukkan suatu korupsi besar dari salah satu calon, dimarahin lalu mundur. lalu saya bilang kalau mau berhentikan silahkan karena ini acara anda tapi saya tidak akan mengundurkan diri. Jadi dia bilang, "Baiklah, kita tunggu rapat board dan kami bertahu". Jadi saya bilang, "Saya dikasih tahu dong sebelum kamis", kamis malam acaranya supaya saya gak dateng ke studio. kalau saya diberhentikan saya tidak datang, kalau tidak dikasih pemberitahuan ya saya datang. Terus saya bilang "Kalau bisa, kalau diberhentikan pakai surat jangan kayak pada waktu pemberhentian yang dulu", itu yang Wimar’s World tidak ada suratnya jadi komentar Jak-TV itu rada membingungkan masyarakat. Jadi dia janji ok, kita akan rapat board dan kita akan kasih surat, tapi rupanya tadi pagi 7.30 sudah ada telepon kepada rekan saya Susy Magdalena memberitahukan bahwa saya diberhentikan, tapi saya tidak tahu jam berapa rapatnya karena kemaren saya sampai malam gitu ya. Terus waktu ditanya suratnya, ya akan datang siang tapi sampai tadi, sampai sekarang, tidak datang jadi saya pikir kalau ditanya ya saya cerita saja seadanya. janjinya ada surat tapi tidak ada. tapi yang jelas diberhentikan.

SS: Saya juga agak jarang nonton acara itu, mungkin bisa dijelaskan dulu ke pendengar, nanti akan ada interaktif bersama dengan anda, sudah ada pendengar yang ingin ngobrol dengan anda, bisa dijelaskan secara singkat format Gubernur Kita seperti apa?

WW: Pada awalnya kelihatannya acara bagus, sebab udah lama ini, bulan Agustus atau September 2006, saya diundang oleh Effendi Ghazali dan oleh Produser Jak-TV saudara Martin Mohede untuk ikut jadi panelis dalam acara yang maksudnya untuk sosialisasi Pilkada menjelaskan sistemnya dan ikut memantau kelancarannya dan nantinya yang akan menarik, ikut menilai para calon gubernurnya. Wah asyik juga. Terus saya tanya, apa yakin mau minta saya, sebab Jak-TV ini saya tahu banyak dipengaruhi Pak Sutiyoso dan orang tahu, saya kritis terhadap semua orang yang korup, termasuk Sutiyoso tentunya. Jadi kalau ngundang saya, konsekuensinya saya akan bicara seperti saya biasanya bicara. tapi mereka bilang kita mau mengajarkan demokrasi. Saya sendiri tidak mencari alasan khusus untuk menyerang satu orang, tapi kalau masalah itu muncul ya saya tanya misalnya Busway korupsi kan panitianya sudah diadili masuk penjara, suppliernya sudah diadili masuk penjara, tapi mereka itu sebelum dibawa pergi katanya hanya melakukannya atas instruksi Gubernur. Saya mau tanya "ini betul tidak?", tapi setiap saya tanya begitu orang resah.

SS: Kalau Fauzi Bowo ini kritikan apa sih, sampai kemudian anda bisa dieliminasi?

WW: Sebetulnya pertama pertanyaan mengapa dia tidak pernah mau datang. Karena semua calon Gubernur, baik yang masih bakal calon, maupun yang sudah agak fix, semua itu sudah datang berderetan, Eddi Waluyo, Bibit Waluyo, Faisal Basri, Sarwono, Agum Gumelar sebutlah semua orang itu. Kalau di Indonesian Idol tuh yang babak pertama hadir semua tapi Fauzi Bowo sampai saat ini belum hadir, waktu itu ada 2 yang belum hadir pak Adang dan Fauzi Bowo jadi saya bilang: "Datang dong, supaya kita bisa tanya" sebab banyak pendukung kami, sebab acara kami ini didukung oleh website www.perspektif.net yang anda bisa buka juga nanti malam ini, atau besok pagi, dimana banyak pertanyaan yang dititipkan dari masyarakat. Jadi kalau tidak datang saya tidak bisa tanya, sampai saat ini saya belum pernah ketemu Fauzi Bowo itu seumur hidup, Adang Dorodjatun juga belum tapi waktu pak Adang datang, dia datang, dia senyum, dengan baik-baik, mencoba menjawab pertanyaan sebisa dia dan saya sih tidak maksa, kalau saya sudah tanya, dan dia sudah jawab, silahkan penonton menilai jawabannya bagus atau tidak, juga menilai pertanyaan saya fair atau tidak, ini kan kami yang menyelenggarakan acara, penonton yang menilai.

SS: Tapi Fauzi Bowo tidak pernah datang ya?

WW: Tidak datang-datang. Tapi dia bilang alesannya umroh, ini, itu.

SS: Berikut katanya mengkritik iklan?

WW: Iya, jadi saya bilang, selagi dia tidak datang lalu di breaknya keluar iklan dia. Jadi saya tanya pada produser, "kok lucu ya, acara kita disponsor Fauzi Bowo". Jadi acara yang pura-pura HUT DKI, padahal "mau maju pilihlah yang mampu, Fauzi Bowo" gitulah, tidak hafal, pasti anda tahu iklannya. Jadi setiap station break iklan Fauzi Bowo, calon lain tidak ada iklannya. Adang Daradjatun tidak ada, yang lain pun yang masih dinantikan calonnya itu tidak ada, jadi lucu sekali. Saya mulai rada resah disitu, jadi saya bilang pak Fauzi, datang dong, karena ada iklan itu, terus ada billboard besar di Slipi dan di mana-mana, Selamat Hari Pendidikan Nasional, Hari Ulang Tahun Jakarta DKI fotonya Fauzi Bowo jadi saya pikir, itu kan poster acara DKI, jadi pakai uang DKI, masa sih pakai uang pribadi. Kalau pakai uang DKI kenapa gambar Fauzi Bowo kalau Hari Pendidikan Nasional kenapa bukan gambar buku, gambar sekolah, tapi kok gambar Fauzi Bowo, kalau harus orang kenapa Fauzi Bowo kan Gubernur-nya Sutiyoso. Jadi ya itu banyak pertanyaan yang saya lemparkan yang oleh pihak sana barangkali dianggap sebagai sinis, ya mungkin sinis.

Katanya ini bukan kampanye

SS: Ini terbalik dengan kontes idol, juri yang dieliminasi bukan peserta. Ok bung Wimar, kita sudah bersama dengan penelepon, yang langsung akan berkomentar dengan anda pak Yusuf silahkan?

Pak Yusuf: Selamat malam Pak Wimar Witoelar?

WW: Selamat malam pak Yusuf

Pak Yusuf: Begini pak Wimar, jadi saya sebetulnya itu agak jengkel. Kenapa itu calon dipentolkan jadi calon Gubernur, calon ini ternyata tidak mau dikritik, lebih bagus Gubernur Sutiyoso. saya kemaren waktu kritik Sutiyoso itu sampai marunda, dia tidak beres, dan dia terima. Tapi kalau toh memang seorang Fauzi bagaimana dia bisa mengatur warga Jakarta yang tertuju kepada ketua DPRD.. coba kritik itu calon? Tidak tepat itu.

SS: Baik terimakasih, Pak Yusuf di Jakarta Utara. Ini masih beruntung Pak Yusuf, Sutiyoso masih menerima kritik pak Yusuf. Tapi anda tidak ya, Wimar’s World dieliminasi karena itu kan pak?

WW: Wimar’s World langsung sebetulnya, menurut direksi Jak-TV sekarang saya bisa cerita karena sudah selesai ceritanya. Menurut direksi Jak-TV melalui Pak Martin, sebetulnya Pak Sutiyoso itu ingin saya hilang sama sekali dari Jak-TV, bahkan waktu itu dia mengeluarkan karena Jak-TV tidak saja mengeliminir saya, karena acara Wimar’s World kami itu rated No.1-2, paling sukseslah ya. Dan di Gubernur Kita, katanya kalau saya datang itu rating tinggi, kalau saya ke luar negeri, ratingnya turun. Jadi Jak-TV sangat baik pada saya, sampai saat ini pun Jak-TV, Effendi Ghazali, baik pada saya, makanya dengan sangat menyesal mereka bilang, Pak Sutiyoso rupanya tidak senang anda di sini, bagaimana kalau anda istirahat sampai Pilkada selesai, dengan asumsi barangkali Fauzi Bowo yang menang. Saya bilang ya tidak usah ada deal istirahat. kalau diberhentikan berhentikan. kalau tidak, tidak. tapi saya rasa sebagai kawan kalau anda berhentikan saya dari Gubernur Kita, kali orang akan ribut, lalu dia pikir kalau Wimar’s World itu tidak membahas pilkada secara khusus, juga bukan politik keras, bicara damai-damai saja karena saya senang percakapan tenang selama 1 jam, malah itu diberhentikan. tidak fair. padahal acara itu harmless tidak menganggu siapa-siapa, tapi sekedar supaya saya tidak ada di Jak-TV. Rupanya setelah Wimar’s World hilang saya kan tetap ada tiap minggu tetap bicara jadi akhirnya mereka putuskan, tadinya mau minta saya mengundurkan diri tapi karena saya tidak mau, diberhentikan, yang adalah sepenuhnya hak mereka secara legal.

SS: Banyak sekali pesan pendek yang masuk dan hampir semuanya mendukung anda bung Wimar?

WW: Mendukung media transparansi. saya sih ya sudah berhenti saja. Jangan dipersoalkan lagi

Nindya: tidak mau dikritik ya, tidak usah ke politik, tidak mau ke pusaran, katanya pergi ke hutan.

Tia: Belum jadi Gubernur saja sudah difaktor belum lagi dana APBD dibuat kampanye, serahkan kepada ahlinya, ahli tilep uang, ahli membungkam kaum yang kritis bencana untuk DKI.

Pak Dodo: Inilah Indonesia gaya Soeharto, masih menderita di Tanah Air kita. Sepetinya Fauzi Bowo jadi Soeharto jilid 2.

Faiz: Bubarkan saja acara Gubernur Kita kalau pemilik Jak-TV takut sama pejabat tertentu.

WW: Itu sangat betul, sangat serius. Jadi saya pikir apa nilainya Gubernur Kita, kalau dia sudah menjadi acara Fauzi Bowo Kita, iklannya Fauzi Bowo, panelis yang mengkritik dia dihentikan, satu panelis sangat pro pada Fauzi Bowo, jadi mau apalagi kasihan Effendi Ghazali kredibilitasnya berkurang nanti jangan-jangan kebawa ke Republik Mimpi bahwa acara ini hanya entertainment saja bukan betul-betul pendidikan politik.

SS: Ok, jadi anda melihat bahwa perjalanan Gubernur Kita nanti akan berat sebelah?

WW: Tidak, menurut saya sudah tidak ada nilainya. sayang uang dan sayang waktunya. lebih baik kalau sudah ada tukul, nonton tukul gitu ya. Karena di acara ini tidak ada political education, bagaimana kita mau mendidik orang untuk kritis misalnya, kalau orang yang kritik diberhentikan. Yang tegas-tegas saja.

SS: Ini ke depan anda akan balik menuntut atau seperti apa?

WW: Tidak-tidak, saya tidak ada tuntutan sama sekali. Saya kan kalau anda ikuti kehidupan saya barusan saja saya di acara café ketemu Sophia Latjuba, nyanyi, kemaren saya shooting film. Jadi kehidupan saya itu sudah kehidupan yang sangat pribadi dan tenang. Tapi waktu itu bulan Agustus saya diminta oleh Jak-TV dan Effendi Ghazali untuk ikut jadi panelis supaya Gubernur Kita ini lebih tajam, lebih kritis, lebih humor, lebih rame, gitu ya. Ya saya ikut, saya tidak memiliki acara itu, jadi saya diajak, saya ikut, terus saya disuruh berhenti ya berhenti. Seperti misalnya ada bus mau ke Bandung, terus saya karena supir pengalaman ikut deh dengerin ada bunyi-bunyi di bus ini, barangkali kalau ada kerusakan ada yang kasih tau, terus saya ikut, terus ada kerusakan saya kasih tau, itu tuh di depan ada begini itu rodanya barangkali saya bisa betulin. Dia bukannya melihat penyakitnya, silahkan anda turun deh di Purwakarta, saya pulang naik bus saja, kembali ke kehidupan saya semula. Semua acara TV saya itu atas undangan, saya tidak pernah minta. Wimar’s World pun diundang, dulu City View, saya itu diundang terus diberhentikan, ya bagus juga jadi hidupnya penuh variasi tidak bosan.

SS: Ke depan punya rencana buat acara sejenis misalnya di stasiun TV?

WW: Saya kira, saya tidak punya kemampuan atau energi seperti Effendi Ghazali untuk membuat acara. Kemampuan saya itu sangat spesialis hanya untuk mendengar, mengkomentari, nyeletuk, dan mencoba menampung suara penonton. Kalau saya dianggap ahli bikin mie kangkung, bukan berarti saya bisa bikin restoran dengan 200 meja saya hanya bisa bikin mie kangkung, saya hanya bisa memberikan komentar, melihat secara jernih, tidak ada agenda apa-apa, dan bercerita seadanya.

SS: Respon, atas acara Gubernur Kita ini, selama ini seperti apa?

WW: Itu barangkali lebih baik ditanyakan kepada station, tapi yang saya dengar itu memang termasuk acara yang digemari dari 80 acara Jak-TV, itu masuk No. 8 atau 9 yang No.1 nya Wimar’s World tadi itu, bukannya sombong ya, yang Wimar’s World bukan acara politik. tapi saya diberitahu oleh Bapak Timbo Siahaan yang adalah salah seorang pimpinan station bahwa wah kalau pak Wimar tidak ada itu drop. setiap saya tidak ikut itu drop, jadi memang orang ya ada nilai entertainmentnya atau juga ada nilai dari pertanyaan-pertanyaan yang terhitung polos atau bisa dibilang tajam ya, karena orang tidak senang juga kalau acaranya hanya nyanyi-nyanyi, dan hura-hura, padahal itu acara politik.

SS: Ok, secara on air, Fauzi Bowo tidak pernah datang, tapi kalau misalnya di lain acara ini pak Wimar pernah bertemu dengan Fauzi Bowo?

WW: Saya tidak pernah bertemu barangkali itu salah saya juga karena saya tidak aktif politik, saya selain di Gubernur Kita, tidak mengamati, tidak mengikuti kampanye, tidak juga berhubungan, dengan calon Gubernur yang manapun jadi ya mana saya pernah liat tapi saya diberi tahu oleh kawan-kawan bahwa dia memang, anda mungkin lebih tahu jarang atau tidak pernah berdialog tajam dengan pers. Padahal saya pikir, kalau dia datang di Gubernur Kita saya merasa diri orang yang sopan, saya tidak akan mengada-ngada pertanyaanya, latihan yang baik buat Fauzi Bowo kalau dia terpilih untuk menghadapi pers suatu saat dia harus menghadapi pers dong, kecuali mau kayak Pak Soeharto ngumpetnya selama 20 tahun, sampai dia PD, masa sih...

SS: Bagaimana komentar panelis yang seperti Effendi Ghazali atas pemecatan anda?

WW: Lucunya sejak saya digoyang dan dipecat tidak ada kabar sama sekali Effendi Ghazali, padahal lucu, sampai dengan acara yang terakhir dia itu sangat mendukung saya, jadi saya itu, aneh ini ya Sandra, tidak satu kali pun ditegur atau diperingatkan untuk berubah di acara itu. Jadi yang minta saya berubah tuh kalau suatu malam ada telepon, direksi kirim Martin suruh ketemu saya tapi di acaranya setiap saya bikin jokes ketawa, setiap acara tuh closing statementnya diserahkan pada saya oleh Effendi Ghazali. Terus setiap saya tajam, "sorry nih", mereka bilang, "gak papa WW ini bagus, harus gitu, kita terimakasih pada anda, sebab kami itu tidak ada yang bisa". Saya pulang dengan perasaan yang enak. orang juga takut selamat wakil pimp.nya Effendi Ghazali bilang "Pak Wimar closing statement anda elegan", itu bisa ditanyakan pada mereka, jadi saya merasa menjalankan tugas saya dengan baik begitu, jadi anehlah waktu sekonyong-konyong diberhentikan itu jelas keputusan off air, keputusan di luar acara.

SS: Ok, jadi kembali ke soal pemberhentian anda, jadi selama ini kan sampai tadi, baru menerima pemberitahuan secara lisan?

WW: 7.30 pagi secara telepon. (Senin 21/5)

SS: Kalau begitu, alasan pemberhentian ini apakah memang sudah fix dari Fauzi Bowo yang berkomunikasi langsung kepada....?

WW: Iya ini dijelaskan betul pada pertemuan-pertemuan itu bahwa Pak Fauzi Bowo sangat keberatan karena saya menuduh macam-macam. Saya bilang ya sebetulnya kan tinggal datang dan membantah, lalu tinggal liat siapa yang bener. Terus mereka concern bahwa dia tidak mau datang gitu, jangan-jangan dia tidak mau datang. Saya bilang saya masih baik kalau begitu, tunggu saja saya mau ke negeri Belanda bulan depan, kasih tau mungkin dia datang kalau saya tidak ada. Atau kalau gak saya harus berhenti sama sekali, karena bagaimana ya, kalau dia datang masa saya tidak tanya, masa dia takut ditanya saya di suatu acara TV dimana tidak mungkin kita berkelakuan tidak sopan. kalau saya tidak sopan juga malu sendiri kan? Jadi saya menganggap ini suatu diskusi yang sehat kecuali kalau kegiatan Fauzi Bowo begitu tidak sehatnya sehingga diomongin pun tidak mau.

SS: Kalau ada station lain baik TV atau Radio yang menawarkan acara sejenis Gubernur Kita apa anda masih mau?

WW: Setiap tawaran itu saya akan tanggapi kasus per kasus selama ini berjalan saya hampir tiap hari ditawarin di station lain, walaupun bukan mengenai topik Gubernur Kita ya. Saya kehidupannya adalah dalam komunikasi jadi adalah setengah kewajiban saya, setengah hobi saya untuk berbicara dimana diundang selama saya mengenal subject itu, kalau saya ditanya mengenai topik yang saya tidak tahu ya saya tidak bisa memenuhi, tapi dimana saya diundang saya dateng. Jadi kalau anda yang mengundang acara begini saya akan lihat. Dan saya juga barangkali tidak mau mempersulit orang, saya ingin tanya apakah ada rambu-rambu, karena di Jak TV waktu saya diminta di Wimar’s World saya juga tanya, "Pak, sebelum kita mulai saya mau tanya apa ada rambu politik yang saya harus jaga supaya tidak saya langgar, karena saya tanpa sengaja barangkali bisa mengacaukan rencana anda, saya bukan pejuang murni, kalau anda gak mau repot jadi diberi tahu di awal". "Oh enggak-enggak, anda bebas aja, sekarang kita kan jaman bebas" begitu respon mereka.

========================================

Gw emang pendukung Adang, tapi kali ini yang gw prihatin soal intervensi penguasa lewat pengusaha media untuk kembali membredel semua orang yang tak merdu lagunya di media massa


http://perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=668


Category:Other
Bang Yos: Gubernur Jakarta Harus Lebih Gendeng dari Saya
http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php

Jakarta - Menjadi gubernur DKI Jakarta rupanya harus gendeng alias gila. Setidaknya itulah syarat tak tertulis yang dicetuskan Sutiyoso. Gubernur DKI ini bahkan mensyaratkan penggantinya harus lebih gendeng dari dirinya. Adakah?

"Nantinya yang jadi gubernur harus lebih nekat atau gendeng dari saya," cetus pria yang akrab disapa Bang Yos ini.

Hal ini disampaikan dia saat memberikan sambutan pada seminar "Multi Purpose Deep Tunel (MPDT) Penanganan Banjir, Pengelolaan SDA dan Traffic Management secara terpadu di Provinsi DKI Jakarta" di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (24/5/2007).

Bang Yos mengaku kecewa dengan isi kampanye terselubung para cagub DKI yang menyatakan Jakarta telah salah diurus olehnya.

"Katanya Jakarta ini salah urus. Saya mau lihat apa nanti ia bisa ngurus Jakarta yang masalahnya kompleks dan isinya bonek-bonek," ketusnya merujuk julukan suporter kesebelasan Persebaya yakni bondo nekat alias bonek.

"Biasanya yang protes-protes kayak gitu nanti kena protes juga. Apa dia sanggup nahan kalau tiap hari didemo kayak saya," ujar mantan Pangdam Jaya ini.

Gubernur yang heboh dengan program buswaynya ini pun menganjurkan masyarakat lebih pintar memilih cagub DKI. Jangan sampai salah pilih calon yang hanya bisa protes.

"Buat saya orang yang kayak gitu nggak akan saya pilih," pungkas Sutiyoso. (nik/sss)

-------------------------------------------------

Ya ampyuuuuuuuuuuuuunnnn....!!!!! Kok kayak Jurkam aja sih?
Inget donk, biar gimana pun juga itu masukan dari masyarakat. Jakarta memang banyak fasilitas, tapi kualitasnya mana? Kenapa segitu nyolotnya, dan segitu straight to the point berpihaknya sih? Biar gimana pun juga kan dirimu belum meletakkan jabatan gubernur. Gak boleh memihak pak...
Lagian, asal tau aja... itu namanya pendidikan politik. Masak iya, orang-orang harus terima aja dijejelin bahwa Jakarta sudah gemah ripah loh jinawi dan harus dipimpin sama orang yang sudah pengalaman. Masak iya orang gak boleh dikasih tau, kalo Jakarta masih ancur-ancuran. Masak iya, orang yang kemaren kebanjiran gak boleh ngomel-ngomel sama pemerintah yang tergagap-gagap ngatasin banjir, malah bilang ini siklus 30 tahun dan bulan purnama. Masak iya, orang gak boleh mengendus indikasi penyelewengan anggaran dana daerah, saat melihat iklan segede bagong cagub yang sekarang menjabat. Iklan di TV, yang isinya muka cagub doank. Padahal embel-embelnya panitia hut dki. Masa' iya, iklan hut DKI yang dipasang foto cagub? Di belakangnya pake ada foto cagub dan slogannya. Masak iya, kita gak boleh ngerasa geraaaah...????????????? Boleh aja nyentil PKS yang pasang poster di mana-mana, nempel pake sagu yang dimasak malem-malem...nempelnya juga jam 2 malam. Malah ada yang digebukin sama aparat, lantaran pejabat disana masang kandidat yang berbeda. Tapi kalo berani nyentil kita, kenapa atuh gak nyuruh turunin BALIHO segede gambreng yang masih nampang di jalan-jalan utama.
Tanya kennnnaaaappaaaa....????

oh ya, satu yang mau disampein...! Kalaupun seorang gubernur gak mendukung calon PKS....Insya Allah gak ada masalah, selagi ALLAH tetap ridho... Allahu Akbar!!!

***Gemes mode on***
gak ada kerjaan apa tuh ngomentarin soal ginian, sempet-sempet aja kampanye!


ReviewReviewReviewReviewReviewPengen KetawaApr 18, '07 2:34 AM
for everyone
Category:Other


Pengen Ketawa!!!!


Maap ye.... selama ini udah berusaha nahan diri
buat gak menyerang langsung perbuatan "tak menyenangkan" yang "gak fair" itu.
Tapi kalo ngeliat yang
kayak gini sih
, bawaannya udah gak marah...
Tapi pengen Ketawa!!!!


Jadi gini sodara-sodara.... menjelang Pilkada ini
kan, Tim PKS berusaha memasarkan Adang-Dani dengan berbagai cara, termasuk juga
memasarkan slogan AYO BENAHI JAKARTA. Dan dibuatlah
situs dengan judul
www.adangbenahijakarta.com
. Isinya ya... seputar aktivitas Adang dan Dani
menjelang Kampanye.


Eh ternyata ya.... ada pula yang bikin situs
www.benahijakarta.com. Tapi apa
isinya serupa dengan yang pake ayo tadi.....? Nggak banget lah pastinya...! Yang
diusung juga beda...


Mungkin bisa dibilang, salah sendiri kenapa gak
buruan ngebeli domain itu, jadi keburu dipake sama "pesaing". Hihihihi...
mungkin kita mikir terlalu lempeng, jadi ya.. mikirnya..."ngapain pula si
pesaing beli domain itu, secara mereka juga slogannya bukan benahi jakarta..." (Tapi
bisa juga sih mereka ikutan slogan mirip, kan mereka pun bikin relawan yang
namanya mirip... Kalo Pak Adang, relawan Orange, mereka relawan Orangnye...hhmm.....
masuk diakal juga...kalo ternyata mereka ikut-ikutan. Tapi apa iya segitu gak
ada orang pinternya ya...? Jadi semua ikut-ikutan gitu...??? :D)


Herannya kok pake warna-warni khas PKS ya... yang
jelas-jelas mengusung Adang Daradjatun dan Dani Anwar...? Udah gitu pake
mengatasnamakan Forum Keadilan Sejahtera.


Halaaaah....bikin geli aja. Pastinya sih emang
bukan "tangan" si pesaing langsung yang bikin situs ini. Mungkin fans clubnya
kaliii... tapi terus terang ya... caranya kok aneh suraneh bin ajaib gitu sih???
Gak cerdas banget tuh! Btw, aye bilangin ya... Slogan Benahi Jakarta tuh salah
satu  alasannya adalah karena JAKARTA UDAH SALAH URUS.
Jadi kalau 'dia' mau ikutan benahi Jakarta, berarti..... ikut
"dibenahin"
juga dooonk!!!!


Haduuh... sori, gak bisa
bikin yang lebih nyolot lagi...!


eniwei... sekarang udah ada alamat baru buat
Adang-Dani kok.


www.ADANG-DANI.com






ReviewReviewReviewReviewReviewTutup saja IPDN (editorial media indonesia)Apr 12, '07 3:15 AM
for everyone
Category:Other
PEMERINTAH akhirnya menonaktifkan Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Sebuah langkah tambahan setelah serangkaian keputusan yang sebelumnya telah diambil pemerintah.

Semua itu akibat kematian praja asal Sulawesi Utara, Cliff Muntu, karena dibunuh para seniornya. Bukan kematian yang pertama, bukan pembunuhan yang perdana, bukan pula pertama kali setelah terjadi kematian, rektor penghasil pamong praja itu diganti.

Namun, seribu kali rektornya diganti, sejuta kali rektornya dinonaktifkan, tidak akan mengubah kultur kekerasan bahkan pembunuhan yang telah tumbuh subur di institut itu.

Nama lembaga itu pun pernah diubah setelah terungkap terjadi pembunuhan sebelumnya. Tetapi faktanya, pembunuhan kembali terjadi di kampus itu. Jadi, sejuta kali pun nama lembaga itu diganti tidak akan mengubah institut itu menjadi institut yang beradab.

Sebab lembaga itu dari asalnya sudah salah cetak biru. Institut itu, sejak gagasan pendiriannya, sudah mengidap kekeliruan. Ia cacat bahkan sebelum lahir.

Alkisah adalah seorang mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang bernama Rudini diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden Soeharto. Sang jenderal lalu memiliki pandangan bahwa jajaran aparatur pemerintahan yang bernama pamong praja itu tidak memiliki disiplin, bahkan tidak memiliki kepemimpinan. Untuk menghasilkan jenis pamong praja yang memiliki disiplin tinggi dan kepemimpinan yang kuat itu, ia pun lalu mendirikan lembaga pendidikan dengan gaya militer. Bukan cuma sampai di situ, lulusannya pun kemudian dilantik presiden persis seperti lulusan akademi militer.

Yang dihasilkan kemudian sudah pasti bukan tentara untuk bertempur, tetapi juga bukan sipil yang digembleng untuk melayani rakyat. Yang terjadi adalah penggemblengan untuk menjadi pembunuh!

Zaman pun berubah, dari militer yang berkuasa menjadi supremasi sipil. Tidak ada lagi kursi militer di DPR dan MPR karena diangkat. Tidak ada lagi dengan gampang tentara menjadi bupati, wali kota, atau gubernur karena diangkat atau ditunjuk. Siapa pun hanya bisa menjadi kepala daerah karena dipilih rakyat secara langsung.

Dan konsep pamong praja pun berubah dari memerintah menjadi melayani kepentingan publik. Dari disiplin militer menjadi disiplin sosial. Tetapi, lembaga yang menghasilkan pamong praja itu pada dasarnya tetap tidak berubah dari gagasan kelahirannya oleh Jenderal Rudini, yang dicetuskan di zaman otoriter, di era ketika dwifungsi ABRI adalah segalanya.

Tidak hanya zaman berubah, tetapi Institut Pemerintahan Dalam Negeri juga telah berubah menjadi institut pembunuhan dalam negeri. Oleh karena itu, ia tidak punya dasar untuk tetap dipertahankan. Ia seharusnya ditutup sekarang juga, bahkan mestinya dilakukan sejak kemarin.

Jika bangsa ini masih memerlukan sekolah untuk mengisi kebutuhan pemerintahan dalam negeri, biar itu diurus Menteri Pendidikan Nasional. Bukan oleh Menteri Dalam Negeri. Dan pula, bukankah ada universitas negeri yang memiliki fakultas ilmu sosial jurusan ilmu pemerintahan? Mengapa lembaga pendidikan tinggi negeri ini tidak dimanfaatkan? Mengapa harus menghabiskan uang negara untuk menghasilkan para pembunuh?

Untuk menutup Institut Pemerintahan Dalam Negeri itu sesungguhnya tidak diperlukan secuil pun keberanian. Yang diperlukan cuma satu perkara, yaitu secuil kejujuran untuk mengakui institut itu telah menjadi sekolah yang menghasilkan para pembunuh!


Category:Other
PDIP DKI: Kita Berhadapan dengan Musuh Ideologis
Ramdhan Muhaimin - detikcom

Jakarta - Sekitar 15 partai politik (parpol) akan mengeroyok Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Pilkada DKI Jakarta. Entah mengapa mereka bisa bersatu dalam koalisi. Tapi, menurut PDIP, koalisi dibentuk karena berhadapan dengan musuh ideologis.

"Kita berhadapan dengan musuh ideologis. Bagi kami, Presiden SBY adalah musuh politik. Tapi ada yang lebih dari itu, yaitu musuh ideologis," kata Ketua Balitbang DPD PDIP DKI Jakarta, Budi Aris Setiadi, kepada wartawan di kantor DPD PDIP DKI, Jl Tebet Raya 46, Jakarta Selatan, Kamis (15/3/2007).

Budi Aris tidak menyebut siapa yang dimaksud musuh ideologis itu. Namun, sebenarnya arahnya bisa ditebak. Apalagi dalam Pilkada DKI, hanya ada dua pihak yang saling berhadapan, yaitu Koalisi Bersama melawan PKS.

Dengan alasan itulah, PDIP memilih Foke dan bergabung dengan partai-partai lain pendukung Foke. "Kami berkoalisi dengan partai-partai yang jelas mempertahankan NKRI. Karena kami melihat ada ancaman ideologis yang mengancam keutuhan NKRI," ujar dia.

Menurut dia, PDIP akan tetap mempertahankan aspek pluralisme dan Bhinneka Tunggal Ika. "Yang dihadapi oleh kita bersama saat ini adalah terancamnya pluralisme dan Kebinnekatunggalikaan itu. Ini adalah koalisi Jakarta atau koalisi besar untuk mempertahankan pluralisme, NKRI dan kebhinnekaan," kata dia.

Budi Aris juga menyebutkan koalisi yang diikuti PDIP ini merupakan koalisi nasionalis. "Jadi ini adalah Koalisi Nasionalisme versus Sektarianisme. Dengan adanya koalisi ini, semakin jelas siapa yang eksklusif, siapa yang inklusif," kata dia. (asy/sss)

"geleng-geleng... kasihan NKRI, dijadikan tameng. padahal... siapa yang bekerja keras, siapa yang memelihara penjahat..." (ini komentar ira...)

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/15/time/133804/idnews/754658/idkanal/10